Kalangan ulama membedakan tiga bagian kesabaran, yaitu sabar dalam melakukan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menerima cobaan.
Sabar dalam melaksanakan ketaatan itu biasa, dan bisa dilakukan semua orang, termasuk orang-orang awam. Melaksanakan shalat lima waktu salah satu sujud kesabaran. Tanpa kesabaran tidak mungkin shalat lima waktu dapat dilaksanakan secara utuh, telaten, dan konsisten.
Sabar menjauhi maksiat oleh banyak orang dirasakan lebih berat. Bersabar untuk tidak melakukan maksiat dalam keadaan diri sedang normal, ada keinginan, ada kesempatan dan peluang, dan ada jaminan rasa aman dari segala segi, lantas menolak melakukan maksiat itu, maka termasuk amal istimewa.
Kesabarannya sudah melampaui rata-rata kesabaran orang banyak. Itulah sebabnya orang seperti ini mendapatkan janji (reward) dari Allah SWT berupa tempat peristirahatan di bawah naungan Arsy di Padang Makhsyar mengerikan itu.
Sabar dalam menjalani musibah, terutama musibah yang bersifat permanen seperti penyakit kronis, cacat seumur hidup, baik melanda dirinya ataupun anggota keluarga terdekatnya, lantas tetap ia bersabar dan tak bergeming sedikit pun. Ia menerima secara sukarela musibah itu dengan penuh keridhaan terhadap Allah SWT, maka orang ini disebut mashabir.
Jenis-jenis kesabaran juga ditemukan pembagian lebih rigid, yaitu sabar untuk Allah SWT (al-shabr li Allah), sabar terhadap Allah (al-shabr fi Allah), sabar bersama Allah (al-shabr ma’a Allah), sabar berjauhan dengan Allah (al-shabr ‘an Allah), dan sabar dengan Allah (al-shabr bi Allah).
Ada lagi yang membedakan antara al-shabr fihi yang merupakan hak Allah; al-shabr bih, yang merasakan kebaqaan dan kefanaan di dalam dirinya; al-shabr ma’ahu yaitu yang sudah merasakan dirinya sudah seperti mayat; dan al-shabr ‘anhu, yaitu orang yang merasakan dirinya bagaikan sesuatu yang hanyut di sungai, pasrah ke mana pun sungai itu akan membawanya. Dalam buku-buku tasawuf perbedaan ini dijelaskan secara rigid dan rinci. Bagi orang awam membayangkan perbedaan istilah ini saja sulit.
Pada tingkat manapun, kita semua sudah harus memulai menapaki apa yang disebut dengan al shabr. Orang tidak akan mungkin sampai ke puncak pencarian tanpa menjalani kesabaran. Dari artikel ini kita bisa mengukur diri kita, sesungguhnya kita berada di derajat kesabaran yang mana. Yang jelas kita harus bisa memulai menjalani latihan kesabaran dari sekarang.
Janji Tuhan bagi orang yang sabar ialah innallah ma’as shabirin (sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar). Kesabaran mengundang keajaiban. Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak akan merasakan keajaiban hidup. Dan orang seperti ini, siapa pun dia, hidupnya pasti gersang, kering, dan hambar. Wallahua’lam.
Sabtu, 03 Maret 2012
Antara Al-Shabir, Al-Mashabir, dan Al-Shabur (2)
Ketika Nabi Ayub masuk kembali ke perkampungan di dalam kota dengan wajah tampan seperti semula, maka semua orang memujanya, termasuk istrinya. Namun, karena sudah terlanjur bersumpah akan mencabuk istrinya kalau ia kembali sembuh, maka ia diminta Allah SWT untuk menunaikan sumpahnya tanpa menimbulkan rasa sakit pada istrinya.
"Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44).
Yang menarik untuk diperhatikan dari kisah ini ialah, Allah SWT menyebut Nabi Ayub sebagai orang yang shabir, bukanmashabir, atau shabur. Di dalam Alquran ada tiga istilah yang sering digunakan Allah, yaitu shabir, mashabir, dan shabur.
Meskipun ketiga kata tersebut berasal dari akar kata yang sama (shabara), namun ketiganya membentuk makna berbeda satu sama lain. Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer. Sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap.
Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk kategori mashabir. Sedangkan shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma’ yang terakhir ialah al-Sabur.
Hanya Allah SWT yang dapat disebut shabur (setimbang fa’ul atau fa’il) yang tidak akan pernah mungkin dapat dilakukan oleh makhluknya. Seperti Al-Rahim (Maha Penyayang), Al-Hakim (Maha Bijaksana), Al-Halim (Maha Lembut), dll.
Allah SWT disebut Al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya. Sekufur dan sezalim apa pun hambanya, Ia tetap tidak bergeming dan tetap bersedia untuk memaafkannya. Ini buktinya bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih-Penyayang daripada Tuhan Maha Penyiksa dan Pendendam.
Nabi Ayub disebut shabir, menurut ulama tasawuf (isyari) karena ia menjalani ujian penderitaan itu hanya sebentar. Karena penderitaannya diubah menjadi kenikmatan. Bagi seorang Ayub, tidak peduli apakah itu shabir atau mashabir, yang penting ia menjalani kehidupan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Yang Maha Pengatur.
"Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44).
Yang menarik untuk diperhatikan dari kisah ini ialah, Allah SWT menyebut Nabi Ayub sebagai orang yang shabir, bukanmashabir, atau shabur. Di dalam Alquran ada tiga istilah yang sering digunakan Allah, yaitu shabir, mashabir, dan shabur.
Meskipun ketiga kata tersebut berasal dari akar kata yang sama (shabara), namun ketiganya membentuk makna berbeda satu sama lain. Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer. Sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap.
Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk kategori mashabir. Sedangkan shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma’ yang terakhir ialah al-Sabur.
Hanya Allah SWT yang dapat disebut shabur (setimbang fa’ul atau fa’il) yang tidak akan pernah mungkin dapat dilakukan oleh makhluknya. Seperti Al-Rahim (Maha Penyayang), Al-Hakim (Maha Bijaksana), Al-Halim (Maha Lembut), dll.
Allah SWT disebut Al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya. Sekufur dan sezalim apa pun hambanya, Ia tetap tidak bergeming dan tetap bersedia untuk memaafkannya. Ini buktinya bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih-Penyayang daripada Tuhan Maha Penyiksa dan Pendendam.
Nabi Ayub disebut shabir, menurut ulama tasawuf (isyari) karena ia menjalani ujian penderitaan itu hanya sebentar. Karena penderitaannya diubah menjadi kenikmatan. Bagi seorang Ayub, tidak peduli apakah itu shabir atau mashabir, yang penting ia menjalani kehidupan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Yang Maha Pengatur.
Antara Al-Shabir, Al-Mashabir, dan Al-Shabur (1)
Nabi Ayub AS adalah orang yang paling sabar di dalam Alquran. Ia dicoba oleh Allah SWT dengan penyakit aneh. Sekujur tubuhnya hancur dan membusuk. Bukan hanya itu, luka di sekujur tubuhnya dikerumuni belatung.
Akibatnya, ia dipencilkan oleh masyarakat, termasuk oleh istri yang selama ini mendampinginya. Ia dibuang jauh di luar perkampungan di sebuah pegunungan. Ia hidup di dalam sebuah gua yang gelap dan sepi.
Di dalam gua itu Nabi Ayub menghabiskan waktunya seorang diri. Di dalam kesendiriannya inilah Nabi Ayub pernah bersumpah, seandainya Allah memberikan kesembuhan, maka niscaya ia akan menccambuk istrinya karena tega membuang dirinya di tempat yang sepi.
Suatu ketika, ia termenung dan memandangi belatung yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia tiba-tiba berubah pandangan terhadap belatung-belatung yang menggerogoti tubuhnya. Ia menjadikan belatung-belatung tersebut sebagai temannya.
Ia berujar, "Wahai para belatung, sahabatku, makanlah sepuas-puasnya dagingku karena kalian semua sekarang sudah menjadi sahabatku. Kalau hari-hari yang lampau kalian kuanggap musuhku, kemana-mana aku mencari tabib untuk memusnahkan kalian, maka sekarang satu-satunya yang bersedia menemaniku di kegelapan malam di dalam gua ini hanyalah kalian. Semua orang, termasuk anggota keluargaku, membuang aku di tempat yang jauh ini."
Konon, belatung yang terjatuh pada saat ia beribadah diangkat lagi naik ke badannya karena begitu sayangnya Nabi Ayub terhadap belatung itu. Belatung-belatung itu seperti menjadi binatang kesayangannya. Kalau dahulu gigitan belatung itu menyakitkan, kini ia tidak merasakan rasa sakit. Kalau dahulu ia jijik dan benci, kini ia menyukai dan menyayangi belatung itu. Ini menjadi pelajaran bahwa perubahan paradigma dan persepsi ternyata bisa memengaruhi perasaan seseorang. Dari rasa yang amat sakit menjadi berkurang sakitnya, bahkan mungkin menjadi kenikmatan tersendiri.
Setelah sekian lama Allah SWT menguji Nabi Ayub, maka suatu ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk melakukan sesuatu,"Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shad: 42). Setelah Nabi Ayub memukulkan kakinya ke tanah, maka tiba-tiba muncratlah aliran air jernih dan sejuk dari bekas tumit Nabi Ayub.
Nabi Ayub minum dan mandi dari air itu dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam dirinya. Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghilang entah kemana. Bahkan bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayub. Ia lalu bersujud kepada Allah SWT dan bersyukur atas berakhirnya cobaan yang ia alami.
Peristiwa memancarnya air dari pukulan kaki mengingatkan kita pada Nabi Ismail yang juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba keluar mata air yang kini menjadi sumur Zamzam. Hanya bedanya, sumur Zamzam dirawat dengan baik. Sedangkan sumur Nabi Ayub yang terletak sekitar dua jam dari kota Damaskus, dekat dari makam Imim Al-Nawawi, pengarang kitab Riyadh al-Shalihin, tidak terurus dengan baik.
Ketika penulis berkunjung ke sumur ini, baru saja dipugar oleh seorang Kanada yang mengaku kakinya yang “korengan” tidak bisa sembuh, tiba-tiba sembuh setelah mencucinya dengan air sumur itu. Ia kembali ke kota kecil ini membangun tembok dan pagar di sekeliling sumur Ayub.
Berguru kepada Penghuni Alam Lain (3-habis)
Ibnu Arabi beralasan, Al-Haq adalah bagian inmanen dalam diri manusia sebagai alam mikrokosmos, bukannya Ia (Allah) transenden seperti banyak digambarkan oleh ulama fikih, Allahu a’lam.
Secara sederhana, tingkatan alam yang akan menjadi objek pembahasan di sini ialah alam mulk, alam mitsal, alam malakut, dan alam jabarut.
Untuk berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pengenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Sebab, bagaimana mungkin bisa mengakses sekaligus belajar kepada para penghuninya jika alamnya sendiri tak dipahami dengan baik. Setiap alam akan dibahas dalam artikel-artikel tersendiri.
Selain mengenal berbagai alam, manusia sepatutnya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal lebih jauh alam lain tanpa didahului mengenal diri sendiri atau alam di mana kita tinggal. Apalagi, rahasia Tuhan di dalam diri kita sungguh sangat besar.
Sebelum menyingkap hijab-hijab yang ada di alam lain, yang harus disingkap lebih dulu adalah hijab yang ada dalam diri kita. Selanjutnya menyingkap hijab di alam kita, kemudian alam-alam lainnya. Terkait hal ini, pernyataan Rasulullah yang sering dikutip para sufi adalah Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa yang memahami dirinya, ia dapat memahami Tuhannya).
Meskipun para ulama hadits menganggap pernyataan itu bukan hadits (baca hasil penelitian Prof Syuhudi Ismail), kalangan sufi seolah sudah mengonfirmasikan langsung kepada Rasulullah akan keberadaan hadits ini. Hadits ini berulang-ulang dikutip di dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan kitab-kitab karya Ibnu Arabi.
Dari hadits ini diketahui bahwa kompleksitas dan rahasia di dalam diri manusia berlapis-lapis. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya adalah bagaimana melakukan upaya sungguh-sungguh untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Kedekatan ini menjadi prasyarat untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Al-Haq. Diperlukan mursyid untuk membimbing kita agar jangan salah alamat dalam mencari dan menemukan objek yang dituju. Seseorang yang mulai memasuki dunia pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik.
Kemudian, para murid itu akan menjalani berbagai latihan spiritual (riyadhah) secara konsisten sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk mencapai harapan ini.
Secara sederhana, tingkatan alam yang akan menjadi objek pembahasan di sini ialah alam mulk, alam mitsal, alam malakut, dan alam jabarut.
Untuk berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pengenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Sebab, bagaimana mungkin bisa mengakses sekaligus belajar kepada para penghuninya jika alamnya sendiri tak dipahami dengan baik. Setiap alam akan dibahas dalam artikel-artikel tersendiri.
Selain mengenal berbagai alam, manusia sepatutnya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal lebih jauh alam lain tanpa didahului mengenal diri sendiri atau alam di mana kita tinggal. Apalagi, rahasia Tuhan di dalam diri kita sungguh sangat besar.
Sebelum menyingkap hijab-hijab yang ada di alam lain, yang harus disingkap lebih dulu adalah hijab yang ada dalam diri kita. Selanjutnya menyingkap hijab di alam kita, kemudian alam-alam lainnya. Terkait hal ini, pernyataan Rasulullah yang sering dikutip para sufi adalah Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa yang memahami dirinya, ia dapat memahami Tuhannya).
Meskipun para ulama hadits menganggap pernyataan itu bukan hadits (baca hasil penelitian Prof Syuhudi Ismail), kalangan sufi seolah sudah mengonfirmasikan langsung kepada Rasulullah akan keberadaan hadits ini. Hadits ini berulang-ulang dikutip di dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan kitab-kitab karya Ibnu Arabi.
Dari hadits ini diketahui bahwa kompleksitas dan rahasia di dalam diri manusia berlapis-lapis. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya adalah bagaimana melakukan upaya sungguh-sungguh untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Kedekatan ini menjadi prasyarat untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Al-Haq. Diperlukan mursyid untuk membimbing kita agar jangan salah alamat dalam mencari dan menemukan objek yang dituju. Seseorang yang mulai memasuki dunia pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik.
Kemudian, para murid itu akan menjalani berbagai latihan spiritual (riyadhah) secara konsisten sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk mencapai harapan ini.
Berguru kepada Penghuni Alam Lain (2)
Dalam perspektif tasawuf, alam tidak terbatas hanya dalam dua bentuk, yaitu dengan meminjam istilah Muhammad Abduh, ‘alam syahadah dan ‘alam gaib, tapi alam bisa tak berbatas.
Sebab mencakup pula kehadiran Ilahiyah universal (al-hadharat al-kulliyyat/universal divine presences), yang di antaranya ada yang lebih dekat ke alam syahadah mutlak, dan lainnya lebih dekat ke alam gaib mutlak.
Alam sering juga digunakan dalam dua konteks, yaitu alam secara keseluruhan (semua kecuali Allah) dan alam dalam konteks tingkatan alam, seperti ‘alam al-mulk, ‘alam al-mitsal, ‘alam al-malakut, dan ‘alam jabarut.
Masing-masing alam ini mempunyai penghuni. Manusia bisa mengakses dan sekaligus menjadi bagian dari alam-alam tersebut bersama dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya seperti malaikat dan jin. Hal itu dapat dilakukan tentu saja jika manusia itu mampu menyingkap tabir rahasia yang selama ini menghijab dirinya.
Manusia di alam fana ini berada di alam malakut dan dalam keadaan tertentu ia bisa mengalami transformasi spiritual ke alam-alam lain. Tentu, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki atau diberikan kepadanya oleh Allah. Tingkatan-tingkatan alam lebih banyak digunakan dalam konteks kedua, yakni tingkatan alam spiritual.
Di setiap tingkatan alam, Al-Haq (Allah) selalu mengindikasikan kehadiran-Nya. Sehingga tidak ada suatu ruang, waktu, dan dimensi yang bebas dari cakupan Al-Haq. Meskipun dikenal berbagai tingkatan, pada hakikatnya tetap hanya satu kehadiran (al-hadharat), yakni kehadiran Ilahiyyah (al-hadharat al-Ilahiyyah).
Ketunggalan kehadiran Ilahiyyah termanifestasi di dalam apa yang disebut oleh para sufi dengan tauhid al-Dzat, tauhid al-Shifat, dan tauhid al-Af’al. Dalam konteks ini, Ibnu Arabi, salah seorang sufi yang berlatar belakang seorang filsuf, kesulitan membedakan secara skematis antara alam dan Al-Haq.
Karena menurutnya, keseluruhan alam ini tak lain adalah madzhar, atau lokus manifestasi-Nya. Bagi Ibnu Arabi, bukan hal yang mustahil untuk berguru kepada para penghuni alam lain. Bahkan, manusia bisa langsung berkomunikasi dan berguru kepada Al-Haq.
Sebab mencakup pula kehadiran Ilahiyah universal (al-hadharat al-kulliyyat/universal divine presences), yang di antaranya ada yang lebih dekat ke alam syahadah mutlak, dan lainnya lebih dekat ke alam gaib mutlak.
Alam sering juga digunakan dalam dua konteks, yaitu alam secara keseluruhan (semua kecuali Allah) dan alam dalam konteks tingkatan alam, seperti ‘alam al-mulk, ‘alam al-mitsal, ‘alam al-malakut, dan ‘alam jabarut.
Masing-masing alam ini mempunyai penghuni. Manusia bisa mengakses dan sekaligus menjadi bagian dari alam-alam tersebut bersama dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya seperti malaikat dan jin. Hal itu dapat dilakukan tentu saja jika manusia itu mampu menyingkap tabir rahasia yang selama ini menghijab dirinya.
Manusia di alam fana ini berada di alam malakut dan dalam keadaan tertentu ia bisa mengalami transformasi spiritual ke alam-alam lain. Tentu, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki atau diberikan kepadanya oleh Allah. Tingkatan-tingkatan alam lebih banyak digunakan dalam konteks kedua, yakni tingkatan alam spiritual.
Di setiap tingkatan alam, Al-Haq (Allah) selalu mengindikasikan kehadiran-Nya. Sehingga tidak ada suatu ruang, waktu, dan dimensi yang bebas dari cakupan Al-Haq. Meskipun dikenal berbagai tingkatan, pada hakikatnya tetap hanya satu kehadiran (al-hadharat), yakni kehadiran Ilahiyyah (al-hadharat al-Ilahiyyah).
Ketunggalan kehadiran Ilahiyyah termanifestasi di dalam apa yang disebut oleh para sufi dengan tauhid al-Dzat, tauhid al-Shifat, dan tauhid al-Af’al. Dalam konteks ini, Ibnu Arabi, salah seorang sufi yang berlatar belakang seorang filsuf, kesulitan membedakan secara skematis antara alam dan Al-Haq.
Karena menurutnya, keseluruhan alam ini tak lain adalah madzhar, atau lokus manifestasi-Nya. Bagi Ibnu Arabi, bukan hal yang mustahil untuk berguru kepada para penghuni alam lain. Bahkan, manusia bisa langsung berkomunikasi dan berguru kepada Al-Haq.
Berguru kepada Penghuni Alam Lain (1)
Di antara mereka ber-tajassud kepadaku di bumi,
yang lainnya ber-tajassud di udara.
Di antara mereka ber-tajassud di manapun aku berada,
yang lainnya ber-tajassud di langit.
Mereka mengajariku dan aku pun mengajarinya.
Namun, keberadaanku tidak sama.
Aku tetap di dalam entitasku.
Mereka tidak tetap dalam entitasnya.
Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk.
Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna.(Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyah, Juz 1 h 735)
Dalam artikel lalu digambarkan kemungkinan orang berguru kepada alam-alam lain. Sebagaimana dilakukan orang-orang khusus yang berhasil menembus hijab atau menyingkap tabir yang juga diisyaratkan dalam Alquran dan hadits. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu.
Contohnya, pengalaman batin Ibnu Arabi yang diungkapkan dalam bentuk syair seperti dikutip di atas. Masalahnya di sini adalah mekanisme apa yang dilalui para sufi yang berhasil menembus batas alam spiritual tersebut? Sebelum membahas pertanyaan ini, terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksud alam oleh para sufi.
Secara kebahasaan, alam berasal dari akar kata alima-ya’lamu, berarti mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata ‘alam yang artinya tanda, petunjuk, atau bendera; dan ‘alamah yang bermakna alamat atau sesuatu yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai).
Dalam perspektif tasawuf, alam adalah segala sesuatu selain Allah SWT (ma siwa Allah). Alam adalah tanda yang menunjuk kepada (adanya) Allah. Alam juga memberikan kesadaran dan pengetahuan. Alam meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) alam dengan segenap bentuknya secara ijmali/undifferentiated.
Alam dalam form atau bentuk ini, dalam ilmu filsafat dikenal dengan istilah al-’aql al-awwal/the first intellect. Dari sini, Allah sebagai al-Rahman dimanifestasikan. Di sisi lain, alam mencakup pula hakikat seluruh partikularitas (juziyyat) secara tafshili/differentiated yang terkandung di dalam al-’aql al-awwal/the first intellect.
yang lainnya ber-tajassud di udara.
Di antara mereka ber-tajassud di manapun aku berada,
yang lainnya ber-tajassud di langit.
Mereka mengajariku dan aku pun mengajarinya.
Namun, keberadaanku tidak sama.
Aku tetap di dalam entitasku.
Mereka tidak tetap dalam entitasnya.
Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk.
Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna.(Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyah, Juz 1 h 735)
Dalam artikel lalu digambarkan kemungkinan orang berguru kepada alam-alam lain. Sebagaimana dilakukan orang-orang khusus yang berhasil menembus hijab atau menyingkap tabir yang juga diisyaratkan dalam Alquran dan hadits. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu.
Contohnya, pengalaman batin Ibnu Arabi yang diungkapkan dalam bentuk syair seperti dikutip di atas. Masalahnya di sini adalah mekanisme apa yang dilalui para sufi yang berhasil menembus batas alam spiritual tersebut? Sebelum membahas pertanyaan ini, terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksud alam oleh para sufi.
Secara kebahasaan, alam berasal dari akar kata alima-ya’lamu, berarti mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata ‘alam yang artinya tanda, petunjuk, atau bendera; dan ‘alamah yang bermakna alamat atau sesuatu yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai).
Dalam perspektif tasawuf, alam adalah segala sesuatu selain Allah SWT (ma siwa Allah). Alam adalah tanda yang menunjuk kepada (adanya) Allah. Alam juga memberikan kesadaran dan pengetahuan. Alam meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) alam dengan segenap bentuknya secara ijmali/undifferentiated.
Alam dalam form atau bentuk ini, dalam ilmu filsafat dikenal dengan istilah al-’aql al-awwal/the first intellect. Dari sini, Allah sebagai al-Rahman dimanifestasikan. Di sisi lain, alam mencakup pula hakikat seluruh partikularitas (juziyyat) secara tafshili/differentiated yang terkandung di dalam al-’aql al-awwal/the first intellect.
Dari sini, nama Allah sebagai Al-Rahim dimanifestasikan. Pendapat ini juga banyak diakomodasi di dalam kitab-kitab tafsir, terutama dalam menjelaskan perbedaan konteks antara al-Rahman dan al-Rahim dalam ayat pertama dan ketiga dari surah Al-Fatihah: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (al-Rahman al-Rahim).
Orang yang menggabungkan kedua karakter alam di atas biasa disebut manusia paripurna (insan kamil), karena secara ijmal/undifferentiated menjadi bagian dalam martabat ruh, dan secara tafshil/differentiated bagian dalam martabat qalb. Insan kamil menjadi sebuah alam universal yang merepresentasikan keseluruhan nama-nama Allah. Ia sudah menjadi manivestasi (madzhar) nama-nama Allah. Pembahasan lebih rinci konsep insan kamil ini akan dibahas dalam satu artikel tersendiri.
Orang yang menggabungkan kedua karakter alam di atas biasa disebut manusia paripurna (insan kamil), karena secara ijmal/undifferentiated menjadi bagian dalam martabat ruh, dan secara tafshil/differentiated bagian dalam martabat qalb. Insan kamil menjadi sebuah alam universal yang merepresentasikan keseluruhan nama-nama Allah. Ia sudah menjadi manivestasi (madzhar) nama-nama Allah. Pembahasan lebih rinci konsep insan kamil ini akan dibahas dalam satu artikel tersendiri.
Kamis, 01 Maret 2012
Cinta Kasih dan Memaafkan
Memang sangat sulit untuk memaafkan. Banyak dari kita yang mempunyai kendala dalam memaafkan perbuatan seseorang terhadap diri kita. Dikhianati, difitnah, dianiaya, dibohongi, dicaci, ditipu, dan sebagainya dan sebagainya
merupakan alasan-alasan yang membuat kita sulit untuk memaafkan orang lain.Tetapi maukah Anda mulai sekarang memberi maaf? Walau bagaimanapun sakitnya, siapkah Anda memberi maaf?
Selain itu, apakah kita perlu sebuah alasan untuk memaafkan seseorang?
Apakah kita harus mengetahui dulu apa kesalahan seseorang baru kita dapat memberikan maaf terhadap orang itu?
Atau bahkan bisa saja kita memberi maaf dan malahan sebaliknya meminta maaf kepada orang, tanpa adanya alasan apapun...
Pilihan tentu saja ada pada Anda sendiri…………
Apapun pilihan anda mungkin ada satu cerita menarik dari Dr. Joe Vitale, yang merupakan seorang ahli marketing-termasuk salah satu dari lima marketing spesialis didunia saat ini, penulis buku-buku marketing dan hipnotis, seorang hipnoterapis, ahli metafisika, dan pengarang berbagai buku yang terkenal dan sebagainya.
Joe Vitale menceritakan bahwa beberapa tahun sebelum ia mengenal sendiri terapi penyembuhan yang berasal dari Hawaii, ia telah mendengar bahwa ada seorang terapis di
Hawaii yang menyembuhkan seluruh pasien dari sebuah bangsal khusus di rumah sakit yang semuanya kriminal berbahaya dan mengalami gangguan jiwa. Ia dapat menyembuhkan pasien-pasiennya itu hanya dengan melihat data-data pasiennya dan melihat kedalam dirinya, untuk melihat bagaimana ia berhubungan dengan sakitnya
pasien-pasien tersebut. Semakin dia memperbaiki dirinya, semakin banyak pasiennya yang sembuh.
Saat pertama kali mendengarnya, Joe Vitale menyangka bahwa itu hanyalah sebuah legenda belaka. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, bagaimana orang dapat menyembuhkan orang dengan menyembuhkan dirinya sendiri? Bagaimana bisa seorang ahli pengembangan diri atau terapis yang sangat ahli sekalipun dapat menyembuhkan
pasien kriminal berbahaya yang mengalami gangguan jiwa?
Tidak masuk akal dan tidak logis baginya. Ia segera mengenyampingkan cerita-cerita itu.
Setahun kemudian ia mendengar kembali cerita-cerita itu. Ia mendengar bahwa terapis itu menggunakan sebuah sistem penyembuhan Hawaii yang dikenal sebagai “ho ‘oponopono“.
Ia sampai saat itu tidak pernah mendengar proses penyembuhan tersebut, tetapi entah mengapa, ia tak dapat melepaskan rasa penasarannya akan proses itu. Ia mengatakan pada dirinya bahwa bila ceita-cerita itu benar, dia harus mengetahuinya lebih lanjut.
Ia tahu apa yang dinamakan dengan “tanggung jawab penuh”. Yang berarti bahwa apapun yang ia lakukan dan pikirkan adalah tanggung jawab dia, dan diluar itu adalah
tidak lagi merupakan tanggung jawab dia. Ia juga yakin bahwa pasti sebagian besar orang akan berpikir demikian dengan apa yang disebut sebagai “tanggung jawab penuh”. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, tidak terhadap apa yang dilakukan orang lain. Rupanya terapis yang menggunakan sistem penyembuhan dari Hawaii itu kan memberikan pandangan atau persepsi yang baru mengenai “tanggung jawab penuh” ke Joe Vitale.
Nama terapis itu adalah Dr. Ihaleakala Hew Len. Joe Vitale dan terapis itu menghabiskan waktu lebih dari satu jam saat pertama kali Joe Vitale menelepon. Ia meminta terapis
Hawaii itu untuk menceritakan secara detail semua cara kerjanya sebagi terapis. Terapis itu menceritakan bahwa ia bekerja selama empat tahun di Hawaii State Hospital. Penghuni bangsal khusus yang ditanganinya adalah pasien-pasien kriminal yang berbahaya.
Psikolog-psikolog sebelum dia mengundurkan diri setiap bulan. Staf dan pekerja di bangsal khusus itu sering minta libur dan akhirnya minta berhenti. Orang-orang yang
terpaksa harus melewati bangsal khusus itu berjalan dengan punggung menempel ke dinding menjauh dari bangsal itu, karena takut diserang oleh pasien-pasien. Tempat itu
bukan merupakan tempat yang nyaman untuk hidup, kerja atau berkunjung.
Dr. Len mengatakan bahwa ia tak pernah melihat secara langsung pasien-pasiennya. Ia setuju untuk untuk mempunyai sebuah ruang kantor dan meneliti dan mempelajari data-
data dari pasien. Selama ia melihat dan mempelajari data-data pasiennya ia juga akan kerja pada dirinya sendiri. Semakin dia bekerja pada dirinya sendiri, secara perlahan,
pasien-pasiennya mulai sembuh.
Ia mengatakan kepada Joe Vitale bahwa setelah beberapa bulan, pasien yang harus diikat atau dikurung, diperbolehkan berjalan dengan bebas, yang sedang dalam proses pengobatan, bebas dari obat-obat, dan mereka yang sebelumnya nampak tidak akan ada harapan untuk bebas, akhirnya mulai dibebaskan.
Mendengar itu, Joe Vitale terkesima….
Selanjutnya Dr. Len menyatakan bahwa para staf dan pekerja mulai senang datang bekerja. Absen bekerja mulai hilang dan pergantian personil karena pengunduran diri
menghilang dan malahan staf melebihi dari yang dibutuhkan karena banyak pasien yang telah dilepas. Dan saat ini bangsal khusus itu telah ditutup.
Setelah mendengar dengan seksama penjelasan Dr. Len, akhirnya Joe Vitale menanyakan pertanyaan senilai sejuta dolarnya, yaitu:
“Apa yang anda lakukan terhadap diri sendiri yang menyebabkan orang lain dapat berubah?”
“Saya hanya menyembuhkan bagian dari saya yang menciptakan mereka” jawab Dr. Len Joe Vitale bingung dan tak mengerti.
Dr. Len menjelaskan ke Joe Vitale, bahwa tanggung jawab penuh terhadap hidup anda adalah bertanggung jawab terhadap semua yang ada dalam hidup anda, karena semua itu ada dalam kehidupan anda - tanggung jawab anda.
“Waoouuw…. cara berpikir yang sulit untuk diterima.” demikian Joe Vitale berkata kepada dirinya sendiri. “Bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan dengan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan semua orang yang ada dalam kehidupanku adalah dua hal yang berbeda”. demikian Joe Vitale mengatakan kepada dirinya sendiri.
Tapi sebenarnya, menurut dia: bila anda mengambil tanggung jawab penuh terhadap kehidupan anda, ini berarti bahwa apa yang anda lihat, dengar, rasa, sentuh atau apapun
pengalaman anda, adalah tanggung jawab anda, karena ada dalam kehidupan anda. Ini berarti bahwa, aktivitas teroris, pemerintah, ekonomi, politik dan sebagainya yang
anda senang atau tidak, adalah ada pada anda untuk penyembuhannya. Mereka tidak ada, kecuali karena proyeksi dari pikiran dalam diri anda sendiri. Masalah bukan ada pada mereka, tetapi ada dalam diri anda. Dan untuk memperbaiki atau menyembuhkannya anda harus menyembuhkan anda sendiri.
Joe Vitale mengatakan bahwa memang sangat sulit untuk mengerti dan menerima pendapat ini, apalagi menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Karena menyalahkan
lebih mudah dari tanggung jawab penuh. Tapi setelah berbicara dengan Dr. Len, Joe Vitale menyadari bahwa cara penyembuhan yang dilakukan Dr. Len dengan sistem
ho ‘oponopono adalah dengan cara menyayangi diri sendiri. Bila anda ingin mengembangkan dan memperbaiki hidup anda, anda harus menyembuhkan diri anda sendiri. Bila anda ingin menyembuhkan orang lain - kriminal yang sakit jiwa sekalipun - anda melakukannya dengan menyembuhkan anda sendiri.
Joe Vitale menanyakan pada Dr. Len bagaimana caranya ia menyembuhkan dirinya sendiri, apa sebenarnya yang ia lakukan saat melihat data pasien-pasiennya?
“Saya hanya mengucapkan, ‘Saya minta maaf’ dan ‘Saya mencintai anda’ berulang kali” jawab Dr.Len
Hanya itu?
Ya, hanya itu…..
Rupanya mencintai diri anda sendiri adalah cara terbaik untuk mengembangkan diri anda seutuhnya. Dan saat anda berkembang, dunia sekitar anda juga berkembang. Joe Vitale memberi suatu contoh sederhana sebagai berikut :
Pada suatu hari ia menerima sebuah email yang berisi kalimat-kalimat yang membuat ia marah dan kecewa. Sebelumnya ia selalu menggunakan emosi dan amarahnya untuk merespon email-email seperti itu. Ia akan coba menjawab email seperti itu untuk mencari kebenaran. Tapi pada email ini, ia coba menuruti apa yang telah dikatakan oleh Dr. Len.
Ia dalam hati mengatakan “Saya minta maaf” dan “Saya mencintai anda”. Joe tidak mengatakannnya terhadap seseorang atau menuju seseorang. Ia hanya menimbulkan
spirit cinta untuk menyembuhkan dirinya dari dalam dirinya sendiri, untuk apa yang ada diluar dirinya.
Dalam sejam Joe Vitale menerima email dari orang yang sama, yang sebelumnya mengirim email yang menyakitkannya. Orang itu meminta maaf atas semua kalimat
dalam emailnya. Joe Vitale mendapatkan maaf tanpa meminta kepada orang tersebut dan tidak membalas emailnya. Tapi hanya dengan berkata ” Saya mencintai anda”, ia menyembuhkan dirinya sendiri yang menyebabkan tindakan orang yang mengirim email tersebut.
Setelah itu Joe Vitale menghadiri workshop ho ‘oponopono oleh Dr. Len yang telah berusia 70 tahun, dan dapat dilihat sebagai figur seorang kakek yang sederhana. Ia memuji buku
Joe Vitale “Attractor Factor”. Ia mengatakan bahwa semakin Joe mengembangkan dirinya, semakin vibrasi bukunya akan meningkat dan orang akan merasakannya saat membaca
buku itu. Secara singkat bila Joe berkembang, pembacanya juga akan berkembang.
Joe menanyakan “Bagaimana dengan buku yang telah terjual?” Dr Len hanya menjawab dengan bijaksana “Buku-buku itu tak ada diluar sana”, yang membuat Joe Vitale kembali bingung. “Mereka masih tetap ada dalam dirimu sendiri” lanjut Dr. Len. Secara singkat Dr. Len mengatakan bahwa tidak ada yang dinamakan diluar sana.
Menurut Joe Vitale, akan memerlukan satu buku tersendiri untuk menjelaskan teknik ho ‘oponopono ini. Tapi yang penting adalah bahwa bila kita ingin mengembangkan diri kita
dalam hal apapun, hanya ada satu tempat untuk melihat:
Dalam diri anda sendiri…………….
Bila anda melihat lakukanlah dengan cinta…………..
Selajutnya menurut Joe, pesan Dr. Len, mungkin sangat sulit untuk diterima, tapi sebenarnya sangat sederhana. Dr. Len mengatakan bahwa kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lihat didunia. Dengan mengambil tanggung jawab penuh dan kemudian menyembuhkan bagian yang sakit dalam diri kita, kita dapat menyembuhkan diri sendiri dan dunia sekitar kita.
Joe mengatakan bahwa Dr. Len menganjurkan empat langkah dalam proses ini. Saat ada kesempatan untuk menyembuhkan diri anda sendiri, bukalah bagian yang sakit dalam diri anda, ucapkan dan rasakan secara penuh empat kalimat dibawah ini :
Saya mencintai anda
Saya minta maaf
Saya mohon maaf setulus tulusnya
Terima kasih
Demikian cerita singkat dari Joe Vitale……..
Sudikah Anda untuk Memaafkan?????????????
merupakan alasan-alasan yang membuat kita sulit untuk memaafkan orang lain.Tetapi maukah Anda mulai sekarang memberi maaf? Walau bagaimanapun sakitnya, siapkah Anda memberi maaf?
Selain itu, apakah kita perlu sebuah alasan untuk memaafkan seseorang?
Apakah kita harus mengetahui dulu apa kesalahan seseorang baru kita dapat memberikan maaf terhadap orang itu?
Atau bahkan bisa saja kita memberi maaf dan malahan sebaliknya meminta maaf kepada orang, tanpa adanya alasan apapun...
Pilihan tentu saja ada pada Anda sendiri…………
Apapun pilihan anda mungkin ada satu cerita menarik dari Dr. Joe Vitale, yang merupakan seorang ahli marketing-termasuk salah satu dari lima marketing spesialis didunia saat ini, penulis buku-buku marketing dan hipnotis, seorang hipnoterapis, ahli metafisika, dan pengarang berbagai buku yang terkenal dan sebagainya.
Joe Vitale menceritakan bahwa beberapa tahun sebelum ia mengenal sendiri terapi penyembuhan yang berasal dari Hawaii, ia telah mendengar bahwa ada seorang terapis di
Hawaii yang menyembuhkan seluruh pasien dari sebuah bangsal khusus di rumah sakit yang semuanya kriminal berbahaya dan mengalami gangguan jiwa. Ia dapat menyembuhkan pasien-pasiennya itu hanya dengan melihat data-data pasiennya dan melihat kedalam dirinya, untuk melihat bagaimana ia berhubungan dengan sakitnya
pasien-pasien tersebut. Semakin dia memperbaiki dirinya, semakin banyak pasiennya yang sembuh.
Saat pertama kali mendengarnya, Joe Vitale menyangka bahwa itu hanyalah sebuah legenda belaka. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, bagaimana orang dapat menyembuhkan orang dengan menyembuhkan dirinya sendiri? Bagaimana bisa seorang ahli pengembangan diri atau terapis yang sangat ahli sekalipun dapat menyembuhkan
pasien kriminal berbahaya yang mengalami gangguan jiwa?
Tidak masuk akal dan tidak logis baginya. Ia segera mengenyampingkan cerita-cerita itu.
Setahun kemudian ia mendengar kembali cerita-cerita itu. Ia mendengar bahwa terapis itu menggunakan sebuah sistem penyembuhan Hawaii yang dikenal sebagai “ho ‘oponopono“.
Ia sampai saat itu tidak pernah mendengar proses penyembuhan tersebut, tetapi entah mengapa, ia tak dapat melepaskan rasa penasarannya akan proses itu. Ia mengatakan pada dirinya bahwa bila ceita-cerita itu benar, dia harus mengetahuinya lebih lanjut.
Ia tahu apa yang dinamakan dengan “tanggung jawab penuh”. Yang berarti bahwa apapun yang ia lakukan dan pikirkan adalah tanggung jawab dia, dan diluar itu adalah
tidak lagi merupakan tanggung jawab dia. Ia juga yakin bahwa pasti sebagian besar orang akan berpikir demikian dengan apa yang disebut sebagai “tanggung jawab penuh”. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, tidak terhadap apa yang dilakukan orang lain. Rupanya terapis yang menggunakan sistem penyembuhan dari Hawaii itu kan memberikan pandangan atau persepsi yang baru mengenai “tanggung jawab penuh” ke Joe Vitale.
Nama terapis itu adalah Dr. Ihaleakala Hew Len. Joe Vitale dan terapis itu menghabiskan waktu lebih dari satu jam saat pertama kali Joe Vitale menelepon. Ia meminta terapis
Hawaii itu untuk menceritakan secara detail semua cara kerjanya sebagi terapis. Terapis itu menceritakan bahwa ia bekerja selama empat tahun di Hawaii State Hospital. Penghuni bangsal khusus yang ditanganinya adalah pasien-pasien kriminal yang berbahaya.
Psikolog-psikolog sebelum dia mengundurkan diri setiap bulan. Staf dan pekerja di bangsal khusus itu sering minta libur dan akhirnya minta berhenti. Orang-orang yang
terpaksa harus melewati bangsal khusus itu berjalan dengan punggung menempel ke dinding menjauh dari bangsal itu, karena takut diserang oleh pasien-pasien. Tempat itu
bukan merupakan tempat yang nyaman untuk hidup, kerja atau berkunjung.
Dr. Len mengatakan bahwa ia tak pernah melihat secara langsung pasien-pasiennya. Ia setuju untuk untuk mempunyai sebuah ruang kantor dan meneliti dan mempelajari data-
data dari pasien. Selama ia melihat dan mempelajari data-data pasiennya ia juga akan kerja pada dirinya sendiri. Semakin dia bekerja pada dirinya sendiri, secara perlahan,
pasien-pasiennya mulai sembuh.
Ia mengatakan kepada Joe Vitale bahwa setelah beberapa bulan, pasien yang harus diikat atau dikurung, diperbolehkan berjalan dengan bebas, yang sedang dalam proses pengobatan, bebas dari obat-obat, dan mereka yang sebelumnya nampak tidak akan ada harapan untuk bebas, akhirnya mulai dibebaskan.
Mendengar itu, Joe Vitale terkesima….
Selanjutnya Dr. Len menyatakan bahwa para staf dan pekerja mulai senang datang bekerja. Absen bekerja mulai hilang dan pergantian personil karena pengunduran diri
menghilang dan malahan staf melebihi dari yang dibutuhkan karena banyak pasien yang telah dilepas. Dan saat ini bangsal khusus itu telah ditutup.
Setelah mendengar dengan seksama penjelasan Dr. Len, akhirnya Joe Vitale menanyakan pertanyaan senilai sejuta dolarnya, yaitu:
“Apa yang anda lakukan terhadap diri sendiri yang menyebabkan orang lain dapat berubah?”
“Saya hanya menyembuhkan bagian dari saya yang menciptakan mereka” jawab Dr. Len Joe Vitale bingung dan tak mengerti.
Dr. Len menjelaskan ke Joe Vitale, bahwa tanggung jawab penuh terhadap hidup anda adalah bertanggung jawab terhadap semua yang ada dalam hidup anda, karena semua itu ada dalam kehidupan anda - tanggung jawab anda.
“Waoouuw…. cara berpikir yang sulit untuk diterima.” demikian Joe Vitale berkata kepada dirinya sendiri. “Bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan dengan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan semua orang yang ada dalam kehidupanku adalah dua hal yang berbeda”. demikian Joe Vitale mengatakan kepada dirinya sendiri.
Tapi sebenarnya, menurut dia: bila anda mengambil tanggung jawab penuh terhadap kehidupan anda, ini berarti bahwa apa yang anda lihat, dengar, rasa, sentuh atau apapun
pengalaman anda, adalah tanggung jawab anda, karena ada dalam kehidupan anda. Ini berarti bahwa, aktivitas teroris, pemerintah, ekonomi, politik dan sebagainya yang
anda senang atau tidak, adalah ada pada anda untuk penyembuhannya. Mereka tidak ada, kecuali karena proyeksi dari pikiran dalam diri anda sendiri. Masalah bukan ada pada mereka, tetapi ada dalam diri anda. Dan untuk memperbaiki atau menyembuhkannya anda harus menyembuhkan anda sendiri.
Joe Vitale mengatakan bahwa memang sangat sulit untuk mengerti dan menerima pendapat ini, apalagi menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Karena menyalahkan
lebih mudah dari tanggung jawab penuh. Tapi setelah berbicara dengan Dr. Len, Joe Vitale menyadari bahwa cara penyembuhan yang dilakukan Dr. Len dengan sistem
ho ‘oponopono adalah dengan cara menyayangi diri sendiri. Bila anda ingin mengembangkan dan memperbaiki hidup anda, anda harus menyembuhkan diri anda sendiri. Bila anda ingin menyembuhkan orang lain - kriminal yang sakit jiwa sekalipun - anda melakukannya dengan menyembuhkan anda sendiri.
Joe Vitale menanyakan pada Dr. Len bagaimana caranya ia menyembuhkan dirinya sendiri, apa sebenarnya yang ia lakukan saat melihat data pasien-pasiennya?
“Saya hanya mengucapkan, ‘Saya minta maaf’ dan ‘Saya mencintai anda’ berulang kali” jawab Dr.Len
Hanya itu?
Ya, hanya itu…..
Rupanya mencintai diri anda sendiri adalah cara terbaik untuk mengembangkan diri anda seutuhnya. Dan saat anda berkembang, dunia sekitar anda juga berkembang. Joe Vitale memberi suatu contoh sederhana sebagai berikut :
Pada suatu hari ia menerima sebuah email yang berisi kalimat-kalimat yang membuat ia marah dan kecewa. Sebelumnya ia selalu menggunakan emosi dan amarahnya untuk merespon email-email seperti itu. Ia akan coba menjawab email seperti itu untuk mencari kebenaran. Tapi pada email ini, ia coba menuruti apa yang telah dikatakan oleh Dr. Len.
Ia dalam hati mengatakan “Saya minta maaf” dan “Saya mencintai anda”. Joe tidak mengatakannnya terhadap seseorang atau menuju seseorang. Ia hanya menimbulkan
spirit cinta untuk menyembuhkan dirinya dari dalam dirinya sendiri, untuk apa yang ada diluar dirinya.
Dalam sejam Joe Vitale menerima email dari orang yang sama, yang sebelumnya mengirim email yang menyakitkannya. Orang itu meminta maaf atas semua kalimat
dalam emailnya. Joe Vitale mendapatkan maaf tanpa meminta kepada orang tersebut dan tidak membalas emailnya. Tapi hanya dengan berkata ” Saya mencintai anda”, ia menyembuhkan dirinya sendiri yang menyebabkan tindakan orang yang mengirim email tersebut.
Setelah itu Joe Vitale menghadiri workshop ho ‘oponopono oleh Dr. Len yang telah berusia 70 tahun, dan dapat dilihat sebagai figur seorang kakek yang sederhana. Ia memuji buku
Joe Vitale “Attractor Factor”. Ia mengatakan bahwa semakin Joe mengembangkan dirinya, semakin vibrasi bukunya akan meningkat dan orang akan merasakannya saat membaca
buku itu. Secara singkat bila Joe berkembang, pembacanya juga akan berkembang.
Joe menanyakan “Bagaimana dengan buku yang telah terjual?” Dr Len hanya menjawab dengan bijaksana “Buku-buku itu tak ada diluar sana”, yang membuat Joe Vitale kembali bingung. “Mereka masih tetap ada dalam dirimu sendiri” lanjut Dr. Len. Secara singkat Dr. Len mengatakan bahwa tidak ada yang dinamakan diluar sana.
Menurut Joe Vitale, akan memerlukan satu buku tersendiri untuk menjelaskan teknik ho ‘oponopono ini. Tapi yang penting adalah bahwa bila kita ingin mengembangkan diri kita
dalam hal apapun, hanya ada satu tempat untuk melihat:
Dalam diri anda sendiri…………….
Bila anda melihat lakukanlah dengan cinta…………..
Selajutnya menurut Joe, pesan Dr. Len, mungkin sangat sulit untuk diterima, tapi sebenarnya sangat sederhana. Dr. Len mengatakan bahwa kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lihat didunia. Dengan mengambil tanggung jawab penuh dan kemudian menyembuhkan bagian yang sakit dalam diri kita, kita dapat menyembuhkan diri sendiri dan dunia sekitar kita.
Joe mengatakan bahwa Dr. Len menganjurkan empat langkah dalam proses ini. Saat ada kesempatan untuk menyembuhkan diri anda sendiri, bukalah bagian yang sakit dalam diri anda, ucapkan dan rasakan secara penuh empat kalimat dibawah ini :
Saya mencintai anda
Saya minta maaf
Saya mohon maaf setulus tulusnya
Terima kasih
Demikian cerita singkat dari Joe Vitale……..
Sudikah Anda untuk Memaafkan?????????????
Langganan:
Postingan (Atom)