Minggu, 17 Juni 2012

Syukur Dan Keberuntungan

"Many people who order their lives rightly in all other ways are kept in poverty by their lack of gratitude. Having received one gift from God, they cut the wires which connect them with Him by failing to make aknowledgement."
(Banyak orang yang menjalani hidup dengan cukup benar, tetapi tetap miskin karena kurang bersyukur. Setelah menerima kemurahan Tuhan, mereka memotong kabel yang menghubungkan mereka dengan Tuhan dengan cara mengingkari nikmatNya)
- Wallace Wattles (1860 - 1911) -
Seperti kata Wallace Wattles (penulis buku klasik The Science of Getting Rich yang menjadi salah satu dasar The Secret) diatas, tak dapat dipungkiri bahwa perasaan syukur merupakan salah satu faktor penarik keberuntungan dan kesuksesan hidup manusia.
Rasa syukur akan membuat kita memiliki mentalitas berkecukupan (abundance mentality) dan menghilangkan mentalitas kekurangan (scarcity mentality). Pada saat kita merasa berkecukupan, maka hati kita jadi bahagia, perasaan kita jadi enak (feel good) dan kita mampu berpikir positif. Pikiran dan perasaan positif inilah yang mengaktifkan Hukum Ketertarikan (Law of Attraction = LOA). Dengan bahasa yang lain Michael Losier mengatakan bahwa rasa syukur, terima kasih dan penghargaan akan mampu memancarkan vibrasi positif yang dahsyat untuk mengaktifkan Hukum Ketertarikan.
Lalu, syukur yang seperti apakah yang lebih mudah mengaktivasi LOA ?
Untuk menjawabnya, saya perlu menjelaskan adanya dua tingkatan syukur.
Tingkatan syukur yang pertama, adalah syukur yang sudah sering kita lakukan, yaitu syukur bersyarat atau syukur parsial. Kita bersyukur atas sesuatu yang kita miliki atau kondisi baik yang kita alami. Syukur semacam ini mirip seperti rasa syukur atau ucapan terima kasih yang dilontarkan anak kecil setelah dibelikan mainan atau permen oleh bundanya. Artinya, syukur merupakan akibat. Sebagai contoh, Anda merasa bersyukur setelah mendapatkan kenaikan gaji. Anda bersyukur karena penjualan toko Anda naik 20%. Anda bersyukur ketika anak Anda lulus sekolah dengan baik, Anda bersyukur setelah membeli mobil baru atau Anda bersyukur karena Anda selamat dari kecelakaan. Itulah beberapa contoh syukur bersyarat.
Tentu saja tidak ada jeleknya dan tidak ada salahnya dengan tingkatan syukur semacam ini. Anda harus terus melakukannya, karena inilah bentuk rasa syukur yang umum kita lakukan. Namun perlu Anda sadari bahwa tingkatan rasa syukur seperti ini relatif lemah untuk mengaktivasi Hukum Ketertarikan. Mengapa ? Karena seringkali kita tidak benar-benar bersyukur dengan tulus, melainkan hanya merupakan ungkapan puas diri sesaat. Atau malahan rasa syukur ini bisa jadi perasaan negatif terhadap suatu keadaan. Anda hanya berusaha untuk melihatnya dari sisi yang positif, padahal yang sebenarnya Anda merasa tidak enak atau kurang puas. Rasa syukur semacam ini juga tidak tahan lama dan hanya sebagian saja.
Tingkatan syukur yang kedua adalah rasa syukur tak bersyarat atau syukur yang menyeluruh (holistic), yang mencakup juga semua rasa syukur yang berada di tingkatan syukur pertama (syukur parsial). Rasa syukur ini tidak terikat pada situasi dan kondisi serta menyatu pada diri Anda atau menjadi identitas Anda. Beberapa contoh syukur di tingkatan ini antara lain rasa syukur terhadap hidup Anda, dunia seisinya, waktu dan ruang, masalah dan tantangan, pikiran dan perasaan Anda, kebebasan Anda memilih, syukur terhadap ide dan konsep Anda dan sebagainya. Pada dasarnya rasa syukur ini mengatakan, "Betapa indahnya hidup ini." Sikon (situasi dan kondisi) tidak relevan lagi karena tingkatan syukur ini merupakan sebuah pilihan yang tidak memerlukan alasan. Perumpamaannya adalah mirip kita sedang bermain video game atau Play Station. Semuanya terasa menyenangkan, musiknya, gambarnya, permainannya, karakternya dan sebagainya. Tidak jadi masalah apakah Anda menang atau kalah karena pengalaman bermainlah yang terpenting. Artinya Anda perlu melepaskan semua alasan dibalik rasa syukur Anda. Bersyukurlah terhadap keberadaan Anda sendiri, maka Anda telah bergerak dari melakukan syukur (doing grateful) ke menjadi bersyukur (being grateful). Dan Anda akan mampu mengaktivasi Hukum Ketertarikan karena Anda telah memancarkan rasa syukur setiap saat dan kapan saja. Ingat ! Being grateful bukan hanya sekedar doing grateful.
Dengan sikap semacam ini, insyallah, keberuntungan akan menjadi milik Anda. Wish You Luck. (SA)

Uang Kertas Biang Krisis Ekonomi?

Kaum muslimin,
Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

Seiring dengan kesadaran umat akan bahaya riba, masyarakat mulai skeptis dengan sistem perekonomian yang berjalan saat ini. Berbagai polemik tentang konsep dan sistem perekonomian islam mulai banyak ditawarkan. Bahkan sebagian kalangan mengusulkan penggantian mata uang.

Ya, itulah gerakan yang saat ini sedang menggencarkan penerapan dinar-dirham. Carut marut sistem ekonomi masyarakat saat ini, hanya dapat diselesaikan dengan menerapkan mata uang dinar-dirham sebagai alat tukar di semua lapisan masyarakat. Karena nilai intrinsiknya yang relatif stabil, mata uang ini relatif lebih tahan terhadap goncangan inflasi. Bahkan kehidupan ini tidak akan bisa lepas dari riba, selama alat tukar yang digunakan di masyarakat adalah mata uang kertas. Bahkan uang kertas itulah sejatinya biang inflasi.

Benarkah klaim ini? Mari kita simak artikel tentang konsep mata uang berikut:

Uang Kertas Biang Krisis Ekonomi?

Saat ini, umat manusia di belahan dunia manapun terus dihantui oleh makhluk mengerikan yang sebut dengan inflasi. Harga-harga kebutuhan masyarakat terus menerus meningkat dan di saat yang sama nilai tukar mata uang mereka tiada hentinya melemah. Kondisi ini tentu merusak kemakmuran hidup masyarakat, terlebih bila berkepanjangan.

Riset dan diskusi telah banyak dilakukan oleh para pakar ekonomi, dan mereka juga telah banyak mengusulkan solusi guna mengatasi kondisi ini. Walau demikian, hingga saat ini ekonomi masyarakat dunia terus memburuk akibat inflasi.

Mengapa Terjadi Inflasi?

Ditinjau dari penyebabnya, inflasi bisa terjadi karena beberapa hal, diantaranya:

Pertama, banjir uang yang merupakan alat transaksi di pasar sehingga mengakibatkan permintaan terhadap barang meningkat. Dan sebagai dampak logisnya nilai tukar uang terus merosot dan turun.

Banyak faktor yang mengawali terjadinya banjir likuiditas, diantaranya ialah lemahnya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang. Sebagaimana spekulasi para pelaku ekonomi di sektor industri keuangan juga turut menyebabkan terjadinya ledakan jumlah uang di pasar.

Kedua, faktor lain yang mendorong timbulnya inflasi ialah terjadinya kelangkaan barang di saat permintaan relatif stabil atau bahkan meningkat. Kesenjangan antara penawaran dan permintaan ini dapat memicu kenaikan harga, sebagai konsekuensi logis dari hukum permintaan-penawaran.

Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal, semisal bencana alam, kelangkaan bahan baku, aksi penimbunan dan lainnya. Sebagaimana faktor kelancaran distribusi juga mempengaruhi tercapainya keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Mungkinkah Nilai Tukar Dinar-Dirham Melemah?

Bila anda cermati, adanya kenaikan harga suatu barang atau mayoritas barang, bukanlah fenomena yang aneh. Harga barang dipengaruhi oleh perbandingan jumlah permintaan dan penawaran yang tidak sebanding. Di saat stok barang menipis, maka secara alami harga barang naik, dan sebaliknya di kala stok barang melimpah maka nilai jualnya merosot. Hanya saja yang tidak wajar adalah bila naiknya harga barang berkepanjangan, sehingga menimbulkan keresahan.

Dalam sejarah Islam, kondisi semacam ini biasanya terjadi karena paceklik atau peperangan yang berkepanjangan. Akibatnya produksi barang kebutuhan masyarakat terhambat sedangkan kebutuhan mereka seringnya tidak dapat ditunda. Sebagai dampak langsung dari kondisi ini, nilai tukar uang melemah dan stabilitas ekonomi terganggu.

Imam Ibnu Katsir mengisahkan bahwa pada tahun 434 H, terjadi paceklik dan wabah penyakit di kota Baghdad. Saking parahnya, sampai-sampai masyarakat setempat memakan bangkai, kucing, dan anjing. Bahkan demi mempertahankan hidup banyak orang yang rela mejual tanah dan rumahnya dengan beberapa potong roti. (Al-Bidayah Wa An-Nihayah, 11/211)

Kemudian, pada tahun 462 H terjadi hal serupa di negeri Mesir, sampai-sampai seekor anjing dijual seharga 5 dinar. (Al-Bidayah Wa An Nihayah 12/99)

Dua fakta sejarah di atas merupakan bukti nyata bahwa kenaikan harga barang dan hancurnya daya beli mata uang, dapat saja terjadi pada mata uang dinar dan dirham. Hanya saja biang terjadinya kondisi semacam ini biasanya adalah faktor-faktor diluar kuasa manusia, sehingga bila kondisi telah kembali normal maka nilai tukar dinar dan dirham turut kembali normal.

Walau demikian, bukan berarti dinar dan dirham benar-benar terbebas dari pengaruh kenakalan sebagian pedagang.

Penimbunan barang atau monopoli suatu kebutuhan masyarakat, dapat saja menjadikan harga barang membumbung tinggi dan nilai tukar mata uang melemah. Wajar bila dalam syari’at islam, praktek monopoli atau penimbunan barang dengan tujuan menjadikan stok barang menjadi langka di pasaran adalah perbuatan yang terlarang.
من احتكر فهو خاطئ

"Barang siapa menimbun barang, maka ia telah berbuat kesalahan (dosa)."  (HR. Muslim)

Sebagaimana praktek perdagangan dinar dan dirham yang tidak mengindahkan kaedah syariat, tentu saja dapat memicu terjadinya riba dan inflasi. Islam telah menentukan bahwa pertukaran mata uang harus dilakukan setaca tunai sehingga terjadi serah terima fisik secara utuh tanpa ada yang tertunda sedikitpun. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الذهب بالذهب، والفضة بالفضة، والبر بالبر، والشعير بالشعير، والتمر بالتمر، والملح بالملح، مثلا بمثل، يدا بيد، فمن زاد، أو استزاد، فقد أربى، الآخذ والمعطي فيه سواء

Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir (salah satu jenis gandum) dengan sya'ir, korma dengan korma, dan garam dengan garam, harus sama dalam (takaran/timbangan) dan (dibayar dengan) kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba. Dosa penerima dan pemberi tambahan sama besarnya." (HR. Muslim)

Beda Inflasi Dinar & Inflasi Uang Kertas

Walaupun uang dinar dan kertas sama-sama bisa mengalami penurunan nilai tukar, namun terdapat tiga perbedaan mendasar antara penurunan keduanya.

1) Nilai tukar uang dinar berasas pada bahan bakunya, sehingga nilai tukarnya bersifat permanen dan kokoh. Fakta ini menjadikan dinar jauh dari pengaruh opini pelaku pasar yang bisa saja benar dan bisa juga tidak. Dengan demikian nilai tukar dinar sulit untuk dipermainkan oleh para spekulan sektor industri keuangan. Berbeda dengan nilai tukar uang kertas yang terletak pada kepercayaan masyarakat. Para spekulan industri keuangan lebih leluasa untuk merekayasa kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap nilai tukar suatu mata uang.

2) Pedagang dapat saja melakukan beberapa ulah nakal -misalnya dengan menimbun barang- sehingga menjadikan harga suatu kebutuhan masyarakat menjadi mahal. Walau demikian, dampak dari penimbunan itu hanya terjadi dalam skala sempit. Adapun nilai tukar dinar atau nilai jual barang lain tetap stabil. Karena itu terbukti harga jual emas sepanjang sejarah seakan tidak pernah berubah. Kalaupun terjadi perubahan, maka sejatinya perubahan itu terjadi pada nilai jual mata uang kertas yang anda gunakan untuk membeli emas.

3) Ruang perdagangan mata uang dinar lebih sempit, terlebih bila dinar menjadi mata uang global. Dengan demikian, ruang gerak para spekulan yang hobi mengambil keuntungan pribadi benar-benar terbatas.

Karena itu, ketika krisis ekonomi global melanda mayoritas negara, para pakar ekonomi, mengusulkan adanya satu mata uang global yang diterima di seluruh negara. Tentu yang paling tepat menjadi mata uang global ialah dinar atau dirham.

Semoga paparan singkat di atas, dapat membuka sudut pandang anda tentang syari'at islam dalam hal keuangan. Islam lebih menekankah pada metode dan bukan pada bahan baku, bentuk atau hal-hal serupa lainnya. Karena itu, hadits yang saya sebutkan di atas dengan gamblang menggambarkan bahwa praktek riba bisa saja terjadi pada mata uang dinar dan dirham. Ini bukti nyata bahwa biang utama permasalahan keuangan terletak pada metode dan perilaku masyarakat  dan bukan pada fisik mata uang atau bahan bakunya. Wallahu Ta'ala a'alam bis shawaab. (Sinopsis artikel "Uang Kertas Penyebab Krisis", Majalah Pengusaha Muslim edisi 28)

--------

Keterangan  yang baru saja Anda simak adalah sinopsis dari artikel yang ditulis oleh Dr. Muhammad Arifin Baderi. Artikel ini telah dimuat di majalah Pengusaha Muslim edisi 28, yang secara khusus mengupas tentang konsep mata uang dalam islam.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan wawasan lebih lengkap tentang konsep mata uang, bisa mendapatkan e-magazine edisi ini di: http://shop.pengusahamuslim.com

Terima kasih...

Semoga bermanfaat...

Copyright © 2012 Yayasan Bina Pengusaha Muslim, All rights reserved.
Anda menerima email ini karena adalah pembaca website PengusahaMuslim.com
Our mailing address is:
Yayasan Bina Pengusaha Muslim
Jl. Kaliurang KM 6,5
Yogyakarta 55581
Indonesia

Sabtu, 16 Juni 2012

Catatan Dahlan Iskan

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.
Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam.., maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.
Tetap semangat...Tetap sabar....Tetap tersenyum...! Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN.
TUHAN menaruhmu di "tempatmu" yang sekarang, bukan karena "KEBETULAN".
Orang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.
______
(Disadur dari Buku "Sepatu Dahlan")

Jumat, 15 Juni 2012

5 Pearls of Wisdom from Warren Buffett


Warren Buffett adalah investor dan pengusaha Amerika yang masuk dalam daftar orang terkaya sedunia. Berikut ini Warren membagikan kiat-kiatnya dalam menjalani hidupnya yang sukses:

Pearls of Wisdom 1: Percaya pada Diri Sendiri
"Saya selalu yakin suatu saat nanti saya akan kaya. Saya tidak pernah meragukan keyakinan itu." Dari kecil, Warren adalah pribadi yang pemalu tapi dia selalu mempercayai dirinya. Ia tahu betul kemampuannya dan punya keyakinan dan keberanian untuk mengikuti kata hatinya ketika memang diperlukan. Hal ini sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil. Ayahnya mengajarinya bahwa penting untuk mendengarkan dirinya sendiri dibanding meminta pendapat orang lain.

Pearls of Wisdom 2: Terus Belajar
Warren Buffett adalah penggemar berat Benjamin Graham, Bapak Investasi Nilai. Warren selalu belajar hal-hal baru dari tokoh-tokoh panutannya di bidang investasi sepanjang hidupnya. Ia juga menghabiskan masa kecilnya dengan membaca semua bacaan tentang investasi dan kerja kerasnya ini terbayarkan dengan kesuksesan besarnya. Maka itu, jangan takut untuk belajar hal-hal baru. Warren terus belajar dari orang-orang di sekitarnya selama hidupnya dan tidak pernah sekali pun berpikir dirinya sudah tahu semua hal.

Pearls of Wisdom 3: Jalani Hidup Sederhana
Meski punya kekayaan miliaran dolar, Warren hanya memakai uangnya sebesar $100.000 (sekitar Rp946.800.000) per tahun untuk kebutuhan hidupnya. Warren akan mengawasi pengeluarannya seperti seekor elang dan selalu tahu betul uangnya dipakai untuk keperluan apa saja. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah menuruti kata hatinya untuk membeli barang-barang mewah meski dia menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Pearls of Wisdom 4: Berhati-hati dalam Berteman
"Lebih baik bergaul dengan orang-orang yang lebih baik dari kita. Pilihlah teman dan rekan yang perilakunya lebih baik dari perilaku kita dan kita pun akan terpengaruh karenanya." Warren Buffett selalu berkumpul dengan orang-orang sukses lainnya dan akan meminta nasihat dari mereka yang lebih cerdas darinya. Ia tahu betul jika dirinya bergaul dengan orang-orang sukses, sikap mereka, energi positif dan kesuksesan mereka akan memberikan pengaruh padanya.

Pearls of Wisdom 5: Ada yang Lebih Berharga dari Uang
Warren tidak memandang uang sebagai satu-satunya penentu kesuksesan seseorang. "Saat Anda sudah mencapai usia setua saya, Anda akan menilai kesuksesan Anda dalam hidup dari berapa banyak orang yang menyayangi Anda. Itulah penguji utama seberapa kualitasnya hidup Anda."

Kamis, 14 Juni 2012

Pengantar Conference II TDA – "Taktik Pindah Kuadran dengan Cantik" – oleh Budi Rachmat


Rekan sekalian…..,
Tulisan ini adalah pengantar untuk conference II – TDA…
Hari: Jumat, 26 Mei 2006.
Jam : 14.00 s/d 16.00
Y!M saya: budi_rachmat
Moderator: 
kybenk@yahoo.com
Topik “Taktik pindah kuadran dengan cantik”…
yang memberikan judul topiknya adalah pak Adly “kybenk@yahoo.com“…. jadi saya ikutin aja….!!!
sebelum conference…. mohon dibaca dulu “Wealth Strategy ala Kiyosaki” tulisan 1,2,3 dan 4….
Pengantar:
“Triger” kenapa saya mulai berpikir lebih serius untuk keluar dari pekerjaan saya…. adalah kelahiran anak saya ke-3, Talitha Alisya pada tahun 2002.
Karena pada tahun 2015 nanti… “by system”… saya harus pensiun… Pada saat pensiun itu…. Alisya belum berumur 15 tahun…. secara “tanggung-jawab” saya masih wajib membiayainya 10 tahun lagi (sampai usia 25 tahun-an)…. belum lagi biaya untuk ke 2 kakaknya, Dira Sabrina (lahir tahun 1993) dan Ranisha Calluella
(tahun 2000).
Saya cek ke “HRD”/personalia/penggajian…. berapa sich uang pensiun yang akan diterima…???… ada 2 kemungkinan…:
a. “lump-sum”…. terima “sekali gede”… trus ga dapet lagi…. b. terima uang pensiun bulanan…. yang besarnya -+ 1/5 atau 1/6 dari “take home pay” terakhir….
pikiran saya… klo bulan depan saya pensiun… apa yang bisa saya perbuat…???
a. klo terima “lump-sum”… mo diapain… usaha? Usaha apa? Apakah sekali usaha pasti berhasil? Gimana klo ga berhasil…? cari kerjaan lagi…??
… padahal “fixed income” sudah tidak ada….
… padahal saat itu sudah “berumur”……….
… bagaimana saya harus “bersaing” dengan yang muda2….
b. klo saya terima uang pensiun (1/5 atau 1/6 dari gaji saya sekarang)… apa yang bisa saya kurangi dari Expenses saya sehingga uang pensiun tersebut dapat
mencukupi… tidak saja hidup saya sekeluarga… tapi juga cukup untuk membiayai anak2 saya…
Dalam hati… “positive thinking” aja… khan masih 15 tahun lagi… tapi…
Dalam hari… “thinking”nya sich positive…. tapi…
apakah saya harus “MENUNGGU NASIB”……………!!!
apakah saya harus “MENUNGGU WAKTU”……………!!!
apakah saya harus “BERGANTUNG” pada pihak lain…!!!
lalu… membatin… “APA SICH MAU LOE, BUD….???”
eee…. ternyata… saya ga tau…. “apa kemauan saya”….
… apa TUJUAN…………
… apa TARGET…………
… apa VISI…………..
… apa IMPIAN…………
… apa KEMAUAN………..
… (apapun namanya)……
Sejak itu (tahun 2002)…. saya dengan kesadaran penuh (dengan sengaja) mencari “apa kemauan saya”…. dan “tempat” untuk mencari tau “apa kemauan saya” adalah;
- seminar2 motivasi… antara lain dari TDW…
- buku2 motivasi……
- buku2 orang terkenal/sukses…
- networking/MLM……
Dsb.dsb.dsb.
Pada saat itu saya baca buku Kiyosaki antara lain:
- Rich Dad, Poor Dad……….
- Cashflow Quadrant………..
- Retire Young, Retire Rich…
Dari ke-3 buku ini saya “liat” tulisan/buku2 Kiyosaki
sangat komprehensif (lengkap)…
… Ada cara “mencari tujuan”……,
… ada cara “mencapai tujuannya”..,
… ada mengenai “team”…………,
… ada mengenai “perusahaan”……,
… ada mengenai “hutang”……….,
… ada mengenai “investasi”…….,
dsb.dsb.dsb.
jadi “berkomitmen” untuk membaca buku2 Kiyosaki lainnya dan…. saya “berkomitmen” untuk meng-implimentasi-kan dalam kehidupan finansial saya….
Saya tidak mau “MENUNGGU NASIB”……………!!!
Saya tidak mau “MENUNGGU WAKTU”……………!!!
Saya tidak mau “BERGANTUNG” pada pihak lain…!!!
Lalu…. saya tentukan visi/impian/kemauan/target/sasaran saya, yaitu;
- bulan Mei 2005…. Active + Passive Income saya 3xlebih besar daripada Expenses saya
- bulan Mei 2008…. Passive Income saya 3x lebih besar daripada Expenses saya.
- bulan Mei 2010…. Passive Income saya “sustainable” 3x lebih besar daripada Expenses saya.
Fokus saya (Kiyosaki) adalah pada INCOME/cashflow….,
Maka pada tahun…;
2002: saya beli properti Rasuna-2 lalu disewakan……. (saya masih bekerja)…  Passive Income nich, klo gitu bener (terbukti) nich katanya Kiyosaki mengenai Passive Incoem… maju terus….
2002: bulan Nov…. negosiasi dengan waralaba Alfamart selesai… tinggal melakukan persiapan (bikin PT, SIUP, TDP dan NPWP)…
2003: bulan April saya keluar dari kerjaan…. gaji stop…
2003: bulan Mei waralaba Alfamart dimulai… saya hidup dari tabungan selama 6 bulan… tapi saya tau berapa kira2 yang akan saya terima dan kapan akan
saya terima… (berinvestasi pada Asset)… maka…
2003: bulan Nov mulai terima hasil-usaha Alfamart ke-1… pada saat ini Income saya sudah lebih besar dari gaji saya (tapi belum 3x > dari Expenses)…. saya maju
terus…. mengejar “sasaran/impian/target/kemauan” saya….
2004: bulan April, saya ambil Yogen Crepes ke-1…..

Sampai saat ini…. saya belum berhutang…., menurut Kiyosaki…. bahwa “Hutang adalah alat untuk akselerasi”….Saya ambil “kuliah” di Enterprise University… ketemu pak Purdie…. yang juga berpendapat serupa dengan Kiyosaki… mengenai hutang….
2005: bulan Januari, saya ambil Alfamart ke-2… dengan hutang dari Bukopin…
Sampai disini…. modal saya sudah “habis”…. Habis diinvestasikan ke Asset….. hasilnya…. INCOME/Cashflow saya cukup tinggi…
catatan:
- saya baru berhutang pada bulan Jan 2005, tapi persiapan berhutang sudah saya lakukan pada bulan Nov 2002… dengan membentuk PT…. dan bulan Mei 2003… dengan mempersiapkan “track-record” PT saya…. yaitu lap Keuangan (yang semuanya dikerjakan oleh si master franchise). Oleh sebab itu, proses permohonan kredit saya relatif cepat…. yaitu hanya dalam waktu -+ 1bulan… sudah disetujui…
Sepanjang pemahaman saya bank akan memberikan pinjaman dilihat dari minimal 2 sisi;
1. kita mempunyai kemampuan mencicil… terlihat dari catatan cashflow/Keuangan kita (PT kita)…, dan…
2. mempunyai koleteral…. jika… sekali lagi jika…. ternyata kita tidak mampu melunasi hutang kita….
- cash-out saya untuk investasi ini hanya sebesar 17% (yang saya kumpulkan dari “kelebihan Cashflow” saya), sisanya pinjaman bank… dengan jaminan properti
saya…. (leverage properti… yaitu mendapat uang sewa… mendapat hasil-usaha dari Alfamart ke-2…)
Think BIG…….START small…..And DO ACTION…
2005: bulan Januari…. saya mulai “belajar” Paper Asset…. Menurut Kiyosaki… modal dapat “dicari/diperoleh” dari Paper Asset….Ingat…. “3 Kendaraan berinvestasi” (dalam “Wealth Strategy ala Kiyosaki”).
2005: bulan Februari, saya ambil Yogen Crepes ke-2…
MEI 2005: saya mencapai target saya…., yaitu: Active + Passive Income saya 3xlebih besar daripada Expenses saya. Catatan: Expenses disini…, sudah termasuk kewajiban ke bank…
2005: bulan Oktober, saya mulai berinvestasi di Paper Asset….Catatan: Hasil investasi di Paper Asset tidak saya catat sebagai Income…
Tapi saya buat catatan tersendiri untuk….mengumpulkan modal…Jadi saat ini… modal saya kumpulin dari hasil investasi di Paper Asset dan kelebihan Cashflow yang saya terima setiap bulannya….
2005: bulan Nov…., properti Rasuna-1 saya disewakan…. Properti ini sudah saya miliki sejak tahun 1996 (? Klo ga salah…, sebelum membeli properti Rasuna-2)… tapi selama ini saya (kadang2) gunakan pada saat “week-end” saja…  Selama ini menjadi Liability… sekarang sudah menjadi Asset….
2006: mulai bulan Januari…. saya memiliki/”mengangkat” konsultan Keuangan dan Pajak….yaitu ibu Holijah Siregar….FYI, ibu Holijar adalah Konsultan Keuangan dan Pajak untuk; – Robert T.Kiyosaki ketika datang ke Indonesia pada bulan Oktober 2003 yll. – Pak TDW….
Saya sadar bahwa saya belum “sebesar” pak TDW….tapi… spirit man….
Think BIG…….START small….. And DO ACTION…
2006: bulan Maret, buka toko di Pusat Grosir METRO Tanah Abang…. 2006: bulan April, buka toko/counter voucher n hp………..
Catatan: Ke-2 usaha ini…. ke-2 toko ini…. adalah untuk pertama-kalinya saya berinvestasi di LIABILITY…. tapi…. tentu saja… saya punya ekspektasi/harapan/impian…. terhadap usaha ini…
Karena, saya pikir2…. sampai saat ini…. saya belum punya usaha-sendiri… apa yang selama ini saya kerjakan…. “lebih-kurang” adalah masalah “Asset
Management”…. yaitu “memastikan” bahwa harta saya; – yang dapat menghasilkan Income….ya menghasilkan Income…  – yang tidak bisa menghasilan Income… ya ga pa2….tapi saya tahu…. saya sadar betul akan hal ini….
saya pernah nulis….”… memang klo “tujuan”nya udah tau…. “bagaimana caranya” akan datang dengan sendirinya…”
Saya udah tau (tepatnya “udah merasakan”)… apa “tujuan” (target/sasaran dan kapan-nya) dari berinvestasi di ke-2 toko tsb… Tapi “gimana caranya” ya….????
Pada saat itu…. “Action International”…. datang (dengan sendirinya)… he…he…he…
Kadang2 saya berpikir…. apakah ini (Action Intl) adalah bagian dari plan-nya pak Roni… atau… plan “yang di atas”….
2006: target/sasaran saya pada tahun ini….. memiliki 1 properti dan/atau 1 Alfamart lagi…
MEI 2008: saya harapkan dapat mencapai target saya…., yaitu: Passive Income saya 3x lebih besar daripada Expenses saya.
MEI 2010: target/sasaran/visi/kemauan/impian/tujuan saya adalah….  Passive Income saya “sustainable” 3x lebih besar daripada Expenses saya.
Saya akui… saya sadari…. bahwa “jalan” yang saya tempuh cukup (sangat) ber-resiko… tapi ini adalah pilihan saya….
saya mau KAYA (secara finansial)…..
yang kita bicarakan di atas adalah masalah finansial lho…. … bukan masalah ahlak….., … bukan masalah sosial…., … bukan masalah agama…..,
Semata-mata masalah finansial……………!!! Hanya salah satu sisi dari kehidupan kita…!!!
Mohon doa restunya.

Pertanyaan Heraklius tentang rahasia kekalahan pasukan Romawi


Pertanyaan Heraklius Tentang Rahasia Kekalahan Pasukan Romawi
Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,
Al-Walid bin Muslim berkata, Telah berkata kepadaku orang yang langsung mendengar dari Yahya al-Ghassani yang mendengar cerita dari dua orang lelaki dari kaumnya, keduanya berkata, “Ketika Kaum Muslimin turun memasuki Jordania, kami saling berkata sesama kami bahwa Damaskus akan dikepung. Kamipun berangkat berusaha mendapatkan informasi yang sebenarnya. Ketika kami dalam keadaan demikian tiba-tiba datanglah utusan pendeta menyuruh kami untuk menghadapnya, kami segera datang menemuinya. Dia bertanya kepada kami, “Apakah kalian berdua dari warga Arab?” Kami menjawab, “Ya!”
Kemudian dia bertanya lagi, “Apakah kalian berdua beragama Nasrani?” Kami menjawab, “Ya!” Dia berkata, “Hendaklah salah seorang dari kalian pergi mencari informasi mengenai kaum muslimin dan lihat bagaimana kondisi mereka? Sementara yang lainnya hendaklah bersiap-siap menjaga harta saudaranya.” Salah seorang dari kami masuk mengintai. Tak berapa lama dia kembali kepada pendeta memberitahukan apa yang dilihatnya sambil berkata, “Aku datang membawa berita kepadamu tentang suatu kaum yang lembut. Mereka mengendarai kuda yang telah tua dan lemah, pada malam hari mereka laksana rahib-rahib ahli ibadah dan di siang hari mereka adalah penunggang kuda yang tangguh. Mereka sibuk memperbaiki anak panah dan meruncingkan tombak. Jika engkau mengajak teman dudukmu untuk berbicara maka ia tidak akan paham apa yang engkau katakan disebabkan riuh-rendahnya suara mereka membaca al-Qur’an dan berdzikir.”
Setelah itu sang pendeta berkata kepada para sahabatnya, “Telah datang kepada kalian suatu kaum yang tak mungkin dapat kalian kalahkan.”Ahmad bin Marwan al-Maliki meriwayatkan dalam al-Mujalasah, dia berkata, Telah berkata kepada kami Abu Ismail at-Tirmizi, dia berkata, Telah berkata kepada kami Abu Muawiyah bin Amru dari Abu Ishaq, dia berkata, “Tidak satupun musuh yang dapat duduk tegar di atas untanya ketika berhadapan dengan para sahabat Nabi. Ketika berada di Anthakiyah, Heraklius bertanya kepada para pasukan Romawi yang kalah perang, “Celakalah kalian, beritahukan kepadaku tentang musuh yang kalian perangi. Bukankah mereka manusia seperti kalian juga?” Mereka menjawab, “Ya!” Heraklius kembali bertanya, “Apakah jumlah kalian lebih banyak daripada jumlah mereka atau sebaliknya?” Mereka menjawab, “Jumlah kami lebih banyak berlipat ganda dari jumlah mereka di setiap tempat.” Heraklius bertanya lagi, “Jadi kenapa kalian kalah?”
Maka salah seorang yang dituakan dari mereka menjawab, “Kami kalah disebabkan mereka shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mengajak kepada perbuatan ma’ruf mencegah dari perbuatan mungkar dan saling jujur sesama mereka. Sementara kita gemar meminum khamr, berzina, mengerjakan segala yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kezhaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa-apa yang diridhai Allah dan kita selalu berbuat kerusakan di bumi.” Mendengar jawaban itu Heraklius berkata, “Engkau telah berkata benar.

Senin, 11 Juni 2012

Sudhamek AWS Pandang Happines dari Duniawi dan Spiritual


CEO Garudafood, Sudhamek AWS melihat happiness dari dua angle. Dari sisi duniawi (ekonomi) dan non duniawi (spiritual). Dari sisi ekonomi, happiness merupakan hasil bagi dari possession (yang dimiliki) dengang desire (keinginan). Penafsiran dari hukum ekonomi adalah untuk meningkatkan kebahagiaan maka prosentase possession harus ditambah. “Nah, ini yang saya tidak setuju. Dari pandangan seorang Budhis, secara spiritual, untuk mencapai kebahagiaan yang harus dikendalikan adalah desire-nya,” ujar Sudhamek yang juga Ketua Umum Majelis Budhayana Indonesia ini. Setinggi apa pun possession ditingkatkan kalau desire-nya liar, maka hasil baginya tidak akan ketemu.
Sudhamek AWS
Contohnya, masyarakat yang hidup di pedesaan. Meski secara financial kehidupan mereka sangat minimal, tetapi mereka bersahaja dan tidak memiliki keinginan (desire) yang neko-neko maka mereka jauh lebih bahagia dari orang-orang sukses di kota-kota. “Saya memaknai happiness secara berbeda. Memang, possession harus berkembang, tetapidesire harus di-manage,” katanya.
Konsep lain tentang kebahagiaan yang diyakini Sudhamek adalah kemampuan mengendalikan keadaan. Yakni, keadaan sebab-akibat. Dalam kondisi ini, segala sesuatu pasti ada penyebab yang mengakibatkan sebuah peristiwa. Misalnya, belum lama ini Sudhamek bertemu anaknya yang mengeluh tentang beratnya beban pendidikan yang ditempuhnya. “Saya bilang, ini merupakan konsekuensi dari pilihan kamu sebelumnya,” kata dia. Karenanya, konsekuensi tersebut harus dihadapi dengan positiveatau negative thinking. “Kalau kita menerimanya dengan negativethinking, ya kita akan menderita,” jelasnya.
Intinya adalah bagaimana seseorang merespon sebuah stimulus akan menentukan kebahagiaan orang tersebut. Sudhamek sepakat dengan teori psikologi logotherapy yang dikembangkan oleh Viktor Frankl. Yakni, teori untuk memaknai sebuah stimulus. Tahap memaknai ini ada di antara stimulus dan respon. “Sebelum merespon sebuah stimulus, ada tahapan memaknai yang disebut dengan the box of freedom,” katanya. Nah, the box of freedom ini ada di dalam masing-masing manusia. Tergantung apakah mau merespon stimulus dengan negatif atau positif. “Pada konsep ini, kebahagiaan bergantung pada pikiran masing-masing,” kata dia. Karena itu, Sudhamek akan merasa tidak bahagia apabila dirinya tidak bisa mengendalikan pikirannya untuk merespon sebuah keadaan.
Sementara, dirinya akan merasa bahagia apabila mampu memberikan manfaat bagi orang lain: keluarga, lingkungan, dan rekan kerja juga karyawan. “Bila yang kita lakukan mampu memberi manfaat bagi orang lain, itu sangat membahagiakan,” jelas dia.
Lalu bagaimana Sudhamek menerapkan konsep kebahagiaan tersebut di dalam perusahaan? Menurut dia, perusahaan harus bertumbuh untuk tetap bertahan. Namun, pertumbuhan tersebut tidak perlu dipaksakan. “Kalau kita berpikir, sebuah target pertumbuhan mau-tidak mau harus dicapai dan kemudian tidak tercapai seperti yang ditargetkan, maka pada saat itulah kita akan menderita,” ujarnya. Tetapi, akan berbeda bila cara berpikirnya diubah menjadi, “oke saya akan bertumbuh, saya akan kerjakan sebaik-baiknya dengan team work yang baik. Kalau kemudian tidak tercapai maka respon sikap mental kita menjadi lebih besar, tidak menderita,” terangnya.
Dalam masing-masing karyawan juga diterapkan konsep happiness. Sudhamek percaya bila karyawan bahagia maka kinerja karyawan dan perusahaan juga akan meningkat. Misalnya, baru-baru ini Garudafood membuat Model Leader Development Program. Melalui program ini, karyawan dibantu untuk menemukan pekerjaan sesuai dengan calling (panggilan)-nya. Apabila karyawan ditempatkan pada bidang yang sesuai dengan kecintaannya, maka mereka akan bekerja dengan perasaan bahagia.
Garudafood juga membangun manusia yang kompeten sekaligus saleh (spiritual). Menurut Sudhamek, seseorang yang saleh lebih mampu mengendalikan pikiran untuk merespon keadaan. “Dari kesalehan akan muncul kreatifitas dan melahirkan karya-karya besar karena karyawan bekerja dengan nyaman, tentram dan bahagia,” jelas dia. Contoh konkretnya, setiap akan memulai rapat, anggota tim Garudafood diajak untuk mengatur pernafasan. Tujuannya, untuk membuat pikiran karyawan berada pada kondisi saat ini dan di tempat ini. “Kadang, yang membuat tidak bahagia itu karena pikiran kita melayang ke masa lalu atau masa depan,” katanya. Memikirkan masa lalu dan/atau masa depan hanya akan memunculkan romantika dan juga kekhawatiran akan masa depan. “Maka itu, kita kembalikan pikiran mereka pada saat ini dan di tempat ini,” terangnya.