Kamis, 28 Juni 2012

KO Pada Hantaman Pertama


 “Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka TANPA BATAS.” (QS. Az-Zumar: 10)
Mencoba kembali memaknai arti satu kata ini, sabar. Suatu sikap yang seharusnya semakin matang terinstall dalam diri ini. Memang, jika ingin lebih memahami arti kata ini, maka bertanyalah pada orang yang tepat, yaitu orang yang paling banyak mengalami ujian kesabaran. Ia yang mendapati ujian dari kecil, ketika ditinggal ayah bunda selamanya, pun saat menerima beban risalah, ditinggal paman pelindung setia dan istri tercinta, serta sederet ujian tingkat tinggi lainnya, mencoba belajar darimu, Muhammad SAW tentang makna sabar. Ajarilah aku.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, suatu ketika Rasulullah melintas di dekat seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah makam. Beliau bersabda, “bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Namun, tiba-tiba wanita itu menyergah, “menjauhlah kau dariku! Karena kau tidak pernah mengalami dan merasakan musibah seperti yang menimpaku ini.” Setelah rasul pergi, seseorang memberi tahu wanita itu bahwa yang berbicara dengannya adalah Rasulullah. Wanita itu lalu mendatangi Rasulullah dan berkata, “sekarang aku baru mengenalmu”. Rasul menukas, “sesungguhnya kesabaran adalah pada hantaman pertama”. (HR. Bukhari Muslim)
Banyak sekali kisah dalam kehidupan sekitar kita yang sebenarnya sangat erat dengan kesabaran, karena dimensi sabar yang memang sangat luas. Bukan hanya dalam menghadapi musibah, namun dalam melaksanakan ketaatan, memerangi kemungkaran dan menjauhi kemaksiatan diperlukan sikap tak ternilai ini.
Misalnya saja, pernah suatu ketika dalam suatu organisasi dakwah, karena beban yang dirasa amat berat, banyaknya tuntutan dan tekanan yang dirasa, si x akhirnya memutuskan untuk meminta mengundurkan diri dari organisasi tersebut. Tapi setelah memikirkan lebih jauh, keputusan tersebut pun akhirnya harus ditarik kembali. Suatu keputusan yang amat disesalinya, ketika pernah menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan amanahnya didakwah kepada orang lain.
Ada pula cerita, dalam suatu rapat, si y merasa ide dan gagasannya tidak diterima dalam rapat tersebut, akhirnya terucapkanlah kata, “silakan Antum saja yang menjalankan, Antum lebih tahu tentang hal ini, Ana memang tidak tahu apa-apa”. Tentu saja sambil diikuti warna muka yang tidak menyenangkan. IA jatuh di hantaman pertamanya. Dan seperti yang biasa kita lihat, ujung dari hal-hal seperti ini adalah penyesalan. Penyesalan terhadap diri sendiri yang masih belum bisa bersabar.
Lain lagi cerita si z, sudah tak sanggup dia menahan perasaan suka yang dimilikinya terhadap si y, akhirnya disampaikanlah apa yang dirasakannya itu kepada si y, padahal belum ada kesiapan yang dimiliki oleh si z untuk menikahi si y. pun, setelah menyampaikan perasaannya tersebut, yang tersisa adalah penyesalan, penyesalan karena belum mampu bersabar dalam menghadapi perasaannya yang masih labil. Satu lagi KO di hantaman pertama.
Serta ada berjuta permisalan lain yang ada di sekitar kita. Tanda-tanda sangat mudah dilihat, dari warna wajah, kata-kata yang keluar dari mulut serta bahasa tubuh atau sikap tak mengenakkan lain yang sejenis. Suatu sikap yang pada awalnya TERASA BENAR DAN SESUAI namun jika direnungkan lebih jauh lebih banyak menimbulkan penyesalan.
Dan sepertinya kita semua sepakat, jika pertanda orang sabar, adalah ketenangan. Ketenangan yang timbul dari suatu keyakinan, bahwa segalanya adalah bagian dari ketetapanNya, yang diyakini penuh kebaikan dan sarat pembelajaran kebijaksanaan. Sungguh benar perkataanmu baginda rasul, kesabaran adalah pada hantaman pertama. Dan aku berjanji, tak akan lagi ku mudah jatuh pada hantaman pertama itu.
“Hidup yang dituntun dengan kesabaran akan menjadikan kehidupan selalu berjalan di atas nurani yang dipenuhi berkah dan akan berakhir dengan surga yang kekal. Kesabaran akan terasa pahit di awalnya layaknya sebuah obat, tetapi hasil yang didapat kemudian adalah rasa manis yang takkan ada habisnya”.

“Rasa berat terjadi saat suatu hal yang membuat diri terasa berat itu datang menghantam, karena semua bentuk perubahan dari satu kondisi ke kondisi yang lain, apalagi hal yang menyakitkan, selalu menyebabkan perubahan psikis di dalam jiwa manusia. Selanjutnya, hal yang datang itu pasti akan terasa lebih ringan, bahkan terlupakan karena situasi dan kondisi yang datang setelahnya.”
“Setiap kondisi dan situasi buruk mempunyai daya hantam yang berbeda, ketika seseorang berhasil melewati hantaman terkuat dari sebuah situasi buruk dia pasti akan berhasil mengubah musibah menjadi rahmat, sakit menjadi nikmat dan kegelisahan menjadi ketenangan. Bahkan orang yang sudah mencapai tingkat ini, segala bentuk penderitaan akan berubah dengan sendirinya menjadi ketenangan. Tentu saja, keterampilan batin seperti ini hanya dapat dicapai setelah orang tersebut piawai melewati hantaman pertama dari segala hal buruk yang menimpanya dengan kegemilangan”.
(Fethullah Gullen dalam penjelasan tentang kesabaran rasul Muhammad SAW)
Jika SABAR adalah GOLOK PEMBUNUH NAGA maka SYUKUR adalah PEDANG LANGITNYA.
Dan jika kau berhasil memiliki keduanya, bersiaplah memiliki jurus tersakti di jagat raya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21349/ko-pada-hantaman-pertama/#ixzz1z9FEpNpv

abdullah ibn umar : sahabat rasul,sahabat malam


Perang Khandak berkecamuk. Beredar kabar, siapa saja lelaki berusia 15 tahun ke atas berhak ikut berjihad. Mendengar itu seorang pemuda berseri-seri. Usianya saat itu masuk 15 tahun. Ia segera mendaftarkan diri. Itulah idamannya selama ini: berjihad bersama Rasulullah. Keikutsertaannya dalam berbagai medan jihad tak pernah lepas dalam sejarah hidup pemuda itu. Saat perang membuka kota Mekah (Futuh Makkah), ia berusia 20 tahun dan termasuk pemuda yang menonjol di medan perang. Dialah, Abdullah ibn Umar, atau Ibn Umar. 

"Penting sekali mendapatkan pengakuan (baiat) dari penduduk Madinah. Yang paling kukhawatirkan ada tiga orang: Husain ibn Ali, Abdullah ibn Zubair, dan Abdullah ibn Umar," Muawiyah berwasiat kepada anaknya, Yazid, yang telah dia nobatkan sebagai putra mahkota. Tiga orang itu telah menyatakan penentangannya pada pengangkatan Yazid ibn Muawiyah. 

"Adapun Husain ibn Ali, aku berharap kamu dapat mengatasinya. Adapun Abdullah ibn Zubair, kalau kamu berhasil mengatasinya, kamu harus menghancurkannya hingga berkeping-keping. Sedangkan Ibn Umar, orang ini sebenarnya terlalu sibuk dengan urusan akhirat. Asal kamu tidak mengusik urusan akhiratnya ini, maka ia akan membiarkan urusan duniamu." 

Berkawan Malam. Menurut sebagian penulis riwayat, kaum muslimin masa itu sedang jaya-jayanya. Muncul daya tarik harta dan kedudukan membuat sebagian orang tergoda memperolehnya. Maka para sahabat melakukan perlawanan pengaruh materi itu dengan mempertegas dirinya sebgai contoh gaya hidup zuhud dan salih, menjauhi kedudukan tinggi. 

Ibn Umar pun dikenal sebagai pribadi yang berkawan malam untuk beribadah, dan berkawan dengan dinihari untuk menangis memohon ampunan-Nya. Akan halnya soal salat malam ini, ada riwayatnya. Di masa hayat Rasulullah, Ibn Umar mendapat karunia Allah. Setelah selesai salat bersama Rasulullah, ia pulang, dan bermimpi. "Seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang kuingini di surga, kain beledru itu akan menerbangkanku ke sana. Dua malaikat telah membawaku ke neraka, memperlihatkan semua bagian yang ada di neraka. Keduanya menjawab apa saja yang kutanyakan mengenai keadaan neraka," begitulah diungkapkan Ibn Umar kepada saudarinya yang juga istri Rasul, Hafshah, keesokan harinya. 

Hafshah langsung menanyakan mimpi adiknya kepada Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda, ni’marrajulu 'abdullah, lau kaana yushallii minallaili fayuksiru, akan menjadi lelaki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering salat malam dan banyak melakukannya. Semenjak itulah, sampai meninggalnya, Ibn Umar tak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik ketika mukim atau bersafar. Ia demikian tekun menegakkan salat, membaca Al-Quran, dan banyak berzikir menyebut asma Allah. Ia amat menyerupai ayahnya, Umar ibn Khatthab, yang selalu mencucurkan airmata tatkala mendengar ayat-ayat peringatan dari Al-Quran. 

Soal ini, 'Ubaid ibn 'Umair bersaksi, "Suatu ketika kubacakan ayat ini kepada Abdullah ibn Umar." 'Ubaid membacakan QS 4:41-42 yang artinya: Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami datangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhamad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul berharap kiranya mereka ditelan bumi, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun." Maka Ibn Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. 

Pada kesempatan lain, Ibn Umar tengah duduk di antara sahabatnya, lalu membaca QS 83:-6 yang maknanya: Maka celakalah orang-orang yang berlaku curang dalam takaran. Yakni orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi, tetapi mengurangkannya bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain. Tidakkah mereka merasa bahwa mereka akan dibangkitkan nanti menghadapi suatu hari yang dahsyat, yaitu ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Lantas Ibn Umar mengulang bagian akhir ayat ke enam, "yauma yaquumun naasu lirabbil 'alamiin", ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Sembari air matanya bercucuran, sampai akhirnya ia jatuh karena sekapan rasa duka mendalam dan banyak menangis. 

Abdullah ibn Umar adalah salah satu sahabat Nabi yang berhati lembut dan begitu mendalam cintanya kepada Rasulullah. Sepeninggal Rasulullah SAW, apabila ia mendnegar nama Rasulullah disebut di hadapannya, ia menangis. Ketika ia lewat di sebuah tempat yang pernah disinggahi Rasulullah, baik di Mekah maupun di Madinah, ia akan memejamkan matanya, lantas butiran air bening meluncur dari sudut matanya. 

Sebagai sahabat Rasul, ahli ibadah dan dikaruniai mimpi yang haq, karena mimpinya dibenarkan Rasulullah, ia menjadi sosok yang tak punya minat lagi kepada dunia. Sebuah kecenderungan yang sudah nampak sejak ia remaja, ketika pertama kali gairahnya bangkit untuk ikut berjihad. 

Selasa, 19 Juni 2012

Cara Paling Paten to Improve Your Skills and Competency Level

Anda semua pasti ingin agar skills dan level kompetensi yang Anda miliki bisa terus tumbuh dan berkembang. Sebab dengan itu, potensi yang menempel dalam sekujur raga Anda bisa terus menemukan taman subur untuk bermekaran. Sebab dengan itu, jejak kontribusi yang Anda pahatkan bisa terus tergambar dengan penuh keindahan.
Entah Anda seorang pekerja profesional ataupun insan pelaku bisnis, pada akhirnya level skills dan kompetensi-lah yang akan menjadi pembeda : apakah organisasi tempat Anda berkiprah akan terus melesat, atau termehek-mehek dalam kubangan kinerja yang buruk dan memilukan.
Lalu, cara apa yang paling ampuh untuk mengembangkan level skill dan kompetensi kita? Cara paling paten yang bisa kita anyam untuk merajut hamparan kinerja individu yang rancak nan menggetarkan?
Beruntung, arena untuk menempa kompetensi itu terus bertebaran dimana-mana. Setiap tahun, perusahaan mengeluarkan investasi hingga milyaran rupiah untuk melaksanakan pelatihan bagi karyawannya – entah dalam bentuk in house training ataupun via public workshop.
Sementara itu, beragam seminar untuk peningkatan kompetensi terus muncul dengan aneka tema : mulai dari cara memulai bisnis dengan modal kartu kredit, cara berkomunikasi dengan efektif hingga pelatihan teknik praktis untuk menyedot WC.
Tak ada yang salah dengan semua pelatihan dan seminar itu. Namun sejumlah riset menunjukkan bahwa class room training and seminar merupakan cara yang paling TIDAK efektif untuk meningkatkan kompetensi dan ketrampilan. Doh.
Kalau begitu, lalu cara apa yang lebih ampuh? Beragam studi dengan jelas menunjukkan bahwa cara yang paling efektif untuk mengembangkan kompetensi adalah melalui ini : praktek yang berbasis pada pengalaman nyata. Practices – lots of practices — based on real experiences.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ah, kita suka lupa dengan pepatah klasik ini. Padahal, penelitian empirik membuktikan bahwa melalui serangkaian praktek berbasis pengalaman nyata-lah, maka proses pengembangan kompetensi bisa berjalan secara optimal.
Berangkat dari prinsip simpel dan fundamental itulah, kini kemudian dikenal apa yang disebut sebagai “action-based learning process”. Atau proses pembelajaran berbasis pengalaman dan tindakan nyata (action).
Cara konkritnya begini : proses pembelajaran biasanya dilakukan dalam rentang 3 hingga 6 bulan, dan dipecah dalam sesi-sesi pertemuan mingguan atau dua-mingguan (weekly atau bi-weekly meeting) selama dua hingga tiga jam.
Apa yang dipelajari dalam sesi-sesi pertemuan itu? Materinya bisa beragam – bisa tentang leadership skills, communication skills, creativity, atau tema teknis seperti project management, talent development system, dan business strategy.
Namun konten utamanya selalu berbasis pada pengalaman dan praktek nyata para pesertanya. Adakalanya, fasilitator memberikan tugas praktek (atau real project) yang harus dijalankan oleh para partisipan. Melalui penugasan dan real projects inilah, para peserta terus di-dorong untuk mempraktekkan langsung materi-materi yang di-jadikan tema pembelajaran.
Nah, dalam sesi-sesi pertemuan itu, fasilitator kemudian berperan untuk “men-struktur-kan pengalaman nyata para pesertanya” ke dalam poin-poin pembelajaran yang ampuh. Beragam tindakan nyata dan praktek langsung peserta digali dan di-eksplorasi. Dan kemudian di-refleksi-kan menjadi learning points yang bermakna dan menghujam di benak peserta (menghujam sebab benar-benar berbasis pada pengalaman nyata).
Dalam proses itu, fasilitator lebih berperan sebagai coach (dan bukan instruktur yang memberi kuliah bertele-tele). Sebagai coach, fasilitator berperan memberikan feedback serta insight kepada para peserta atas pengalaman nyata yang telah mereka praktekkan. Dan kemudian menyerap poin-poin pembalajaran yang bisa dipetik dari praktek/pengalaman riil itu.
Learning by doing. Learning based on real experiences. Inilah sejatinya cara paling paten untuk meningkatkan level kompetensi dan skills Anda semua.
Para pengelola SDM di semua organisasi/perusahaan harus segera menyusun rencana serius untuk mulai mempraktekkan pendekatan ini. Dan bukan hanya sekedar buang uang ratusan juta untuk mengirim karyawannya pergi ikut training, dan setelah tiga bulan, semua materi menguap tanpa bekas. Lenyap bersama angin. Gone with the wind.

Minggu, 17 Juni 2012

Karakter Muhammad SAW dalam berbisnis

Header
Tingginya kepercayaan terhadap Muhammad Saw di masa itu bukanlah tanpa alasan. Jujur, adil, ramah, cakap, senang membantu pelanggan, menjaga hak pembeli, serta tidak menjelekkan bisnis orang lain merupakan salah satu karakter yang menjadikan beliau sebagai sosok pebisnis yang tepercaya.

• Jujur
Jujur adalah sifat penting dalam Islam. Bahkan salah satu pilar akidah Islam adalah jujur. Pedagang/pebisnis yang suka berbohong tidak ada nilainya dalam Islam. Sebab, kejujuran adalah prinsip esensial dalam bisnis. Dalam tataran ini Nabi Saw bersabda,
“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang mempunyai aib kecuali ia menjelaskan aib itu.”

Seorang pedagang tidak boleh mengelabui calon pembeli dengan menghadirkan orang yang berpura-pura menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik membeli dengan harga tersebut. Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa Nabi pernah bersabda,

“Janganlah kalian melakukan bisnis baiun najâsy (seorang pembeli tertentu berkolusi dengan penjual untuk menaikkan harga, bukan dengan niat untuk membeli, tetapi agar menarik orang lain untuk menaikkan penawaran). Dalam sabdanya yang lain, “Siapa yang menipu kami, dia tidak termasuk golongan kami.”

Senada dengan itu, dalam Al-Qur’an Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.”
(Q.S. An-Nisâ’ (4): 29).

• Adil
Tidak membeda-bedakan konsumen merupakan salah satu perwujudan dari sikap adil. Bersikap adil membuahkan rasa puas dan nyaman bagi para konsumen.
Nabi Muhammad Saw menjadikan nilai adil sebagai standar utama. Kedudukan dan tanggung jawab antara beliau dan mitra bisnis/konsumen dibangun melalui prinsip keadilan, seperti sukarela dalam transaksi dan pengetahuan konsumen akan keberadaan barang dan kualitasnya. Beliau menjauhi tradisi riba yang jelas-jelas membebani konsumen dan mitra bisnisnya.

• Ramah
Berlaku ramah termasuk prinsip dasar yang mesti ditunjukkan seorang pebisnis. Keramahan mendekatkan hubungan antara pedagang dan konsumen. Rahmat Allah bersama para pebisnis yang menunjukkan keramahan. Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis.”
Footer

Karakter Muhammad SAW dalam berbisnis

Header
• Cakap
Seorang pebisnis wajib memiliki pengetahuan terkait usaha yang dijalaninya. Pemahaman terhadap produk dan jasa yang ditawarkan merupakan pengetahuan dasar yang sangat penting dikuasai. Itulah sebabnya, sebelum merintis karier di bisnis perdagangan, Nabi Muhammad Saw terlebih dahulu membekali diri dengan magang dagang.
Mengomunikasikan keunggulan dan kelemahan suatu produk agar konsumen “memahami” perihal produk yang hendak dibelinya adalah cerminan lain dari kecakapan seorang pebisnis. Kecakapan semacam ini mutlak dimiliki demi memuaskan pelanggan dan menjaga hubungan baik dengan mereka, termasuk kecakapan dalam menunjukkan sikap terbaik saat berinteraksi dengan mereka. Rasulullah Saw bersabda,
“Pekerjaan yang paling baik adalah jual-beli yang menepati syariat dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri.”
Senang membantu pelanggan
Rasulullah Saw menegaskan bahwa bisnis dalam Islam tidak hanya sekadar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan Bapak Ekonomi Kapitalis Adam Smith. Bisnis dalam Islam juga berorientasi pada sikap ta‘âwun (tolong-menolong) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis bukan mencari untung material semata, melainkan juga didasari kesadaran untuk memberi kemudahan bagi orang lain dengan menjual barang.

• Menjaga hak-hak konsumen
Sikap lain yang ditunjukkan Nabi dalam membangun kepercayaan konsumen adalah dengan memberikan hak-hak mereka. Di antaranya adalah memberikan hak untuk mengetahui kualitas barang serta hak untuk membatalkan pembelian saat transaksi masih berlangsung.
Rasulullah Saw bersabda,
“Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan transaksi selama mereka belum berpisah. Jika mereka berkata benar dan menjelaskan segala sesuatunya dengan jernih, transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika mereka menyembunyikan sesuatu dan berdusta, berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus.”
“Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati saat ia membeli, saat ia menjual, dan saat ia membuat keputusan.”
Tidak menjelekkan bisnis orang lain
Demi mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya, ada saja pebisnis yang menjelek-jelekkan pebisnis lain (pesaing) kepada para konsumen. Padahal sikap seperti ini justru bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Akibatnya, konsumen menjadi tidak respek terhadapnya.
Menjelek-jelekkan pesaing bisnis adalah perilaku tercela. Nabi Muhammad Saw bersabda,
“Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.” 
Footer

Kepercayaan konsumen membawa kepada kesuksesan

Header
Dari keunggulan karakter yang dimiliki Muhammad SAW dalam berbisnis menimbulkan kepercayaan konsumen (consumer trust). Kepercayaan konsumen membawa kepada jalan menuju sukses bisnis.

Tumbuhnya kepercayaan pada dasarnya bersumber dari kepedulian pebisnis terhadap konsumen. Kepedulian ini terwujud melalui “keterlibatan” seorang pebisnis dalam menunjukkan “perhatian” ketika melayani dan berinteraksi dengan konsumen.
“Keterlibatan” dimaknai sebagai kesediaan untuk melayani sepenuh hati. Bersikap jujur, adil, ramah, cakap, dan senang membantu pelanggan merupakan perwujudan dari keterlibatan positif seorang pebisnis terhadap konsumennya sebagaimana ditunjukkan Nabi Muhammad Saw. Sedangkan menjaga hak-hak konsumen dan tidak menjelek-jelekkan pesaing bisnis adalah kode etik yang senantiasa dijaga Nabi demi mendukung tumbuhnya kepercayaan dari konsumen, mitra bisnis, dan masyarakat.
Mempercepat tumbuhnya kepercayaan konsumen (consumer trust) adalah suatu proses yang sangat ditentukan oleh kualitas diri (profesionalisme) serta komitmen dalam menjunjung nilai-nilai etika dan moral. Kepercayaan harus bisa diperoleh dari diri sendiri, berlanjut ke hubungan antarindividu, berlanjut ke pasar dan lingkungan masyarakat luas. Meningkatnya trust dapat mempercepat pencapaian keberhasilan bisnis (speed of trust).
Footer
 

Ajaran Rasulullah bahwa Hidup harus dalam Keseimbangan

header

“Sesungguhnya Allah SWT sangat senang dengan seorang hamba jika melakukan suatu tugas dilakukannya secara itqan”. (HR ,,,,,) Dalam terminologi Islam, Itqanberarti doing the job at the best possible quality, melakukan suatu tugas dengan kualitas terbaik.
Rasulullah Saw adalah teladan terbaik dalam pengembangan diri, teladan terbaik dalam bisnis dan entrepreneurship, teladan terbaik dalam membina keluarga sakinah, teladan terbaik dalam berdakwah, teladan terbaik dalam mengatur urusan sosial dan politik, teladan terbaik dalam mendidik, teladan terbaik dalam membangun pranata hukum, teladan terbaik dalam strategi pertahanan dan militer. (Muhammad Syafii Antonio, Muhammad the Super Leader Super Manager)
Sejak lima belas abad yang lalu, Rasulullah Saw telah mencanangkan pentingnya kualitas dalam berkarya dan melayani. Karena bisnis adalah proses menjual karya, produk dan jasa. Maka kualitas karya kita akan sangat menentukan maju mundurnya bisnis kita.
Lebih dari itu, kualitas karya kita akan dinilai oleh banyak pihak dengan konsekwensi yang banyak pula. Pihak pertama yang akan menilai karya kita adalah Allah Swt, pihak berikutnya adalah nasabah dan mitra bisnis, lalu vendor, dunia perbankan, pasar modal, asuransi dan lembaga pembiayaan, lembaga lembaga pemerintah, calon importir luar negeri, lembaga rating, mitra industri, dan tentunya hati sanubari kita sendiri yang tidak bisa dibohongi.
Rasulullah Saw bersabda
“innallah yuhibbu an yaro abdan idza amila amalan an yutqinahu, sesungguhnya Allah SWT sangat senang dengan seorang hamba jika melakukan sesuatu dilakukannya secara itqan”.

Dalam terminologi Islam, Itqan berarti doing at the best possible quality. Bekerja secara itqan artinya mencurahkan fikiran terbaik, fokus terbaik, koordinasi terbaik, semangat terbaik dengan bahan baku terbaik. Sehingga insya Allah hasilnya pun terbaik juga. Itqan juga memiliki makna professionalisme dan spesialisasi. Seorang dikatakan mutqin jika ia mahir, piawai dan tiada keragunan dengan bidang yang digelutinya.
Para pelaku bisnis dituntut untuk menemukan ide-ide baru dalam mempertahankan eksistensinya. Ide-ide tersebut mestilah berorientasi kepada keinginan serta kepuasan konsumen. Karena merekalah yang menilai dan melakukan keputusan pembelian. Keputusan mereka untuk membeli sesuatu kepada pihak tertentu, sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan dan kualitas produk yang ditawarkan.
&ldquoan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.”
(QS. al-An’am: 132)
footer