Sabtu, 25 Februari 2012

Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pengetahuan tentang Diri (4)


Membuka sebuah jendela di dalam hati yang mengarah kepada yang tak kasat mata ini juga terjadi di dalam keadaan-keadaan yang mendekati ilham kenabian, yakni ketika intuisi timbul di dalam pikiran—tak terbawa lewat saluran—indera apa pun.

Makin seseorang memurnikan dirinya dari syahwat-syahwat badani dan memusatkan pikirannya pada Tuhan, akan makin pekalah ia terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Orang-orang yang tidak sadar akan hal ini tidak punya hak untuk menyangkal hakikatnya.

Intuisi-intuisi seperti itu tidak pula terbatas hanya pada tingkatan kenabian saja. Sebagaimana juga besi, dengan memolesnya secukupnya, ia akan bisa dijelmakan menjadi sebuah cermin. 

Jadi, dengan disiplin yang memadai, pikiran siapa pun bisa dijadikan mampu menerima kesan-kesan seperti itu. Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau bersabda, "Setiap anak lahir dengan suatu fitrah (untuk menjadi muslim); orang tuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi."

Setiap manusia, di kedalaman kesadarannya, mendengar pertanyaan "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" dan menjawab "Ya". Tetapi ada hati yang menyerupai cermin yang telah sedemikian dikotori oleh karat dan kotoran sehingga tidak lagi memberikan pantulan-pantulan yang jernih. Sementara hati para nabi dan wali, meskipun mereka juga mempunyai nafsu seperti kita, sangat peka terhadap segenap kesan-kesan ilahiah.

Bukan hanya dengan nalar pengetahuan capaian dan intuitif saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan paling utama di antara makhluk-makhluk lain, tetapi juga dengan nalar kekuatan. Sebagaimana malaikat-malaikat berkuasa atas kekuatan-kekuatan alam, demikian jugalah jiwa mengatur anggota-anggota badan. 

Jiwa yang telah mencapai suatu tingkatan kekuatan khusus, tidak saja mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika mereka ingin agar seseorang yang sakit bisa sembuh, maka si sakit pun akan sembuh, atau menginginkan seseorang yang sehat agar jatuh sakit, maka sakitlah orang itu, atau jika ia inginkan kehadiran seseorang, maka datanglah orang itu kepadanya. Sesuai dengan baik-buruknya akibat yang ditimbulkan oleh jiwa yang sangat kuat ini, hal tersebut diistilahkan sebagai mukjizat dan sihir. 

Jiwa ini berbeda dari orang biasa dalam tiga hal:
  1. Yang hanya dilihat oleh orang-orang lain sebagai mimpi, mereka lihat pada saat-saat jaga.
  2. Sementara kehendak orang lain hanya memengaruhi jasad mereka saja, jiwa ini—dengan kekuatan kehendaknya—bisa pula menggerakkan jasad-jasad di luar mereka.
  3. Pengetahuan yang oleh orang lain diperoleh dengan belajar secara sungguh-sungguh, sampai kepada mereka lewat intuisi.
Tentunya bukan hanya tiga tanda ini sajalah yang membedakan mereka dari orang-orang biasa, tetapi hanya ketiganya itulah yang bisa kita ketahui. Sebagaimana halnya, tidak ada sesuatu pun yang mengetahui sifat-sifat Tuhan yang sebenarnya, kecuali Tuhan sendiri, maka tak ada seorang pun yang mengetahui sifat sebenarnya seorang Nabi, kecuali seorang Nabi. 

Hal ini tak perlu kita herankan, sama halnya dengan di dalam peristiwa sehari-hari kita melihat kemustahilan untuk menerangkan keindahan puisi pada seseorang yang telinganya kebal terhadap irama, atau menjelaskan keindahan warna kepada seseorang yang sama sekali buta. Di samping ketidakmampuan, ada juga hambatan-hambatan lain di dalam pencapaian kebenaran ruhaniah. Salah satu di antaranya adalah pengetahuan yang dicapai secara eksternal. 

Sebagai misal, hati bisa digambarkan sebagai sumur dan panca indera sebagai lima aliran yang dengan terus-menerus membawa air ke dalamnya. Agar bisa menemukan kandungan hati yang sebenarnya, maka aliran-aliran ini mesti dihentikan untuk sesaat dengan cara apa pun dan sampah yang dibawa bersamanya mesti dibersihkan dari sumur itu. Dengan kata lain, jika kita ingin sampai kepada kebenaran ruhani yang murni, pada saat itu mesti kita buang pengetahuan yang telah dicapai dengan proses-proses eksternal dan yang sering sekali mengeras menjadi prasangka dogmatis.

Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pengetahuan tentang Diri (3)

 Penanaman kualitas-kualitas setan, hewan ataupun malaikat menghasilkan watak-watak yang sesuai dengan kualitas tersebut—yang di Hari Perhitungan akan diwujudkan dalam bentuk kasat-mata, seperti nafsu sebagai babi, ganas sebagai anjing dan serigala, serta suci sebagai malaikat. 

Tujuan disiplin moral adalah untuk memurnikan hati dari karat nafsu dan amarah, sehingga bagaikan cermin yang jernih, ia memantulkan cahaya Tuhan.

Barangkali di antara pembaca ada yang akan berkeberatan, "Tapi jika manusia telah diciptakan dengan kualitas-kualitas hewan, setan dan malaikat, bagaimana bisa kita ketahui bahwa kualitas malaikat merupakan esensinya yang sebenarnya, sementara kualitas hewan dan setan hanyalah aksidental dan peralihan belaka?" 

Atas pertanyaan ini, saya jawab bahwa esensi tiap makhluk adalah sesuatu yang tertinggi di dalam dirinya dan khas baginya. Kuda dan keledai kedua-duanya adalah hewan pengangkut beban, tetapi kuda lebih unggul dari keledai karena ia dimanfaatkan untuk perang. 

Jika gagal dalam hal ini, ia pun terpuruk ke tingkatan binatang pengangkut beban. Fakultas tertinggi di dalamnya adalah nalar yang menjadikannya bisa merenung tentang Tuhan. Jika fakultas ini dominan dalam dirinya, maka ketika mati dia tinggalkan di belakangnya segenap kecenderungan kepada nafsu dan amarah, sehingga memungkinkannya berkawan dengan para malaikat. 

Dalam hal pemilikan kualitas-kualitas hewan, manusia kalah dibanding banyak hewan, tetapi nalar membuatnya lebih unggul dari mereka, sebagaimana tertulis di dalam Alquran: "Telah Kami tundukkan segala sesuatu di atas bumi untuk manusia." (QS. Al-Jaatsiyah: 13). 

Tetapi jika kecenderungan-kecenderungannya yang lebih rendah yang menang, maka setelah kematiannya, dia akan selamanya menghadap ke bumi dan mendambakan kesenangan-kesenangan duniawi.

Selanjutnya, jiwa rasional di dalam manusia penuh dengan keajaiban-keajaiban pengetahuan maupun kekuatan. Dengan itu semua, ia menguasai seni dan sains, ia bisa menempuh jarak dari bumi ke langit bolak-balik secepat kilat, dan mampu mengukur jarak antar bintang. Dengan itu juga ia bisa menangkap ikan dari lautan dan burung-burung dari udara, serta bisa menundukkan binatang-binatang seperti gajah, unta dan kuda.

Panca inderanya bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap ke dunia luar. Tetapi ajaib dari semuanya ini, hatinya memiliki jendela yang terbuka ke arah dunia ruh yang tak kasat-mata. Dalam keadaan tertidur, ketika saluran inderanya tertutup, jendela ini terbuka dan ia menerima kesan-kesan dari dunia tak-kasat-mata; kadang-kadang bisa ia dapatkan isyarat tentang masa depan. 

Hatinya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu yang tergambar di dalam Lauhul Mahfuzh. Tapi, bahkan dalam keadaan tidur, pikiran-pikiran akan segala sesuatu yang bersifat keduniaan akan memburamkan cermin ini, sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Meskipun demikian, setelah mati, pikiran-pikiran seperti itu sirna dan segala sesuatu tampak dalam hakikat telanjangnya. Dan kata-kata di dalam Alquran pun menyatakan: "Telah Kami angkat tirai darimu dan hari ini penglihatanmu amat tajam."

Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pengetahuan tentang Diri (2)

Langkah pertama menuju pengetahuan tentang diri adalah menyadari bahwa anda terdiri dari bentuk luar yang disebut sebagai jasad, dan wujud dalam yang disebut sebagai hati atau ruh. 

Yang saya maksudkan dengan "hati" bukanlah sepotong daging yang terletak di bagian kiri badan, tetapi sesuatu yang menggunakan fakultas-fakultas lainnya sebagai alat dan pelayannya. 

Pada hakikatnya dia tidak termasuk dalam dunia kasat-mata, melainkan dunia maya; dia datang ke dunia ini sebagai pelancong yang mengunjungi suatu negeri asing untuk keperluan perdagangan dan yang akhirnya akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud dan sifat-sifatnya inilah yang merupakan kunci pengetahuan tentang Tuhan.

Beberapa gagasan tentang hakikat hati atau ruh bisa diperoleh seseorang yang mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain individualitasnya. 

Dengan demikian, ia juga akan memperoleh penglihatan sekilas akan sifat tak berujung dari individualitas itu. Meskipun demikian, pemeriksaan yang terlalu dekat kepada esensi ruh dilarang oleh syariat. 

Di dalam Alqur'an tertulis: "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: Ruh itu adalah urusan Tuhanku." (QS. Al-Israa': 85). Yang bisa diketahui adalah bahwa ia merupakan suatu esensi tak terpisahkan yang termasuk dalam dunia titah, dan bahwa ia tidak berasal dari sesuatu yang abadi, melainkan diciptakan. 

Pengetahuan filosofis yang tepat tentang ruh bukanlah merupakan pendahuluan yang perlu untuk perjalanan di atas lintasan agama, melainkan muncul lebih sebagai akibat disiplin-diri dan kesabaran berada di atas lintasan itu, sebagaimana dikatakan dalam Alquran: "Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan padanya jalan yang lurus." (QS. Al-Ankabuut: 69).

Untuk melanjutkan peperangan ruhaniah demi mendapatkan pengetahuan tentang diri dan tentang Tuhan, jasad bisa digambarkan sebagai suatu kerajaan, jiwa (ruh) sebagai rajanya serta berbagai indera dan fakultas lain sebagai tentaranya. Nalar bisa disebut sebagai wazir atau perdana menteri, nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisi.

Dengan berpura-pura mengumpulkan pajak, nafsu terus-menerus cenderung untuk merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah selalu cenderung kepada kekasaran dan kekerasan. Pemungut pajak dan petugas polisi keduanya harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang harus dipenuhinya. 

Tapi jika nafsu dan amarah menguasai nalar, maka—tak bisa tidak—keruntuhan jiwa pasti terjadi. Jiwa yang membiarkan fakultas-fakultas yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan seorang bidadari kepada kekuasaan seekor anjing, atau seorang Muslim kepada tirani seorang kafir.

Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pengetahuan tentang Diri (1)

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan hadits: "Dia yang mentetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhan,"dan sebagaimana yang tertulis di dalam al-Qur'an: "Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di dunia ini dan di dalam diri mereka, agar kebenaran tampak bagi mereka." 
Tidak ada yang lebih dekat kepada anda kecuali diri anda sendiri. Jika anda tidak mengetahui diri anda sendiri, bagaimana anda bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. 

Jika anda berkata, "Saya mengetahui diri saya." Yang berarti bentuk luar anda; badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya—pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan. 

Demikian pula halnya jika pengetahuan anda hanyalah sekedar bahwa kalau lapar anda makan, dan kalau marah anda menyerang seseorang; akankah anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan anda?

Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya, ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini: Siapakah anda, dan dari mana anda datang? Kemana anda pergi, apa tujuan anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan anda dan kesedihan anda yang sebenarnya berada? Sebagian sifat anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. 

Mesti anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yang aksidental dan mana yang esensial (pokok). Sebelum anda ketahui hal ini, tak akan bisa anda temukan letak kebahagiaan anda yang sebenarnya.

Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Oleh karena itu, jika anda seekor hewan, sibukkan diri anda dengan pekerjaan-pekerjaan ini. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, akal bulus dan kebohongan. Jika anda termasuk dalam kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka. 

Malaikat-malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan. Jika anda punya sifat-sifat malaikat, maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat asal anda agar bisa anda kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi, serta merdeka dari perbudakan nafsu dan amarah. 

Juga mesti anda temukan sebab-sebab anda diciptakan dengan kedua insting hewan ini: mestikah keduanya menundukkan dan memerangkap anda, ataukah anda yang mesti menundukkan mereka dan—dalam kemajuan anda—menjadikan salah satu di antaranya sebagai kuda tunggangan serta yang lainnya sebagai senjata.

Kamis, 23 Februari 2012

Kunci Zuhud

Di tengah-tengah kehidupan yang serba profan dan materialis kini, zuhud barangkali sudah menjadi kata yang asing dan aneh bagi kebanyakan orang, bahkan mungkin bagi sebagian pengemban dakwah. Bagi orang kaya yang biasa bergelimang harta dan kemewahan, hidup zuhud tentu terasa aneh. Bagi orang miskin, hidup zuhud (baca: miskin) tentu amat dibenci. Tentu demikian jika zuhud diidentikan dengan kefakiran atau kemiskinan.
Padahal zuhud tidaklah identik dengan hidup fakir atau miskin. “Zuhud itu bukan berarti miskin harta. Zuhud tidak lain mengosongkan kalbu dari (kecintaan) terhadap harta. Nabi Sulaiman as. sesungguhnya orang yang kaya harta dengan kebesaran kerajaannya, tetapi ia termasuk orang zuhud,” demikian kata Imam al-Ghazali (Al-Ghazali, Ihya ’Ulum ad-Din, I/29).
Karena itu, zuhud sebetulnya bisa menjadi pakaian sekaligus perhiasan setiap Muslim, baik yang kaya ataupun yang miskin. Muslim yang kaya bisa sekaligus menjadi orang zuhud saat ia tidak disibukkan oleh kekayaannya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Kekayaannya malah makin menambah ketaatan dirinya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia makin rajin ibadah, makin giat berdakwah, makin bersemangat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT. Inilah yang ditunjukkan oleh generasi sahabat yang tergolong kaya seperti Abu Bakar ra., Umar bin al-Khaththab ra., Utsman bin Affan ra., Abdurrahman bin Auf ra., Mushab bin Umair ra., dll. Meski mereka kaya-raya, mereka tetaplah ahli ibadah dan giat berdakwah. Meski kaya-raya, mereka tidaklah disibukkan untuk terus menumpuk harta. Sebaliknya, mereka malah sibuk menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT. Pasalnya, bagi mereka, hidup kaya tidaklah menjadikan mereka bangga. Mereka bahkan amat khawatir dengan kekayaan mereka; khawatir jika Allah SWT telah menurunkan seluruh kenikmatan kepada mereka itu di dunia ini saja sehingga tak tersisa lagi kenikmatan untuk mereka di akhirat. Inilah yang menjadikan mereka ’takut’ dengan bertumpuknya harta sehingga dengan berbagai cara, mereka menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT.
Orang miskin pun bisa menjadi orang zuhud saat ia tidak ’disibukkan’ dengan kemiskinannya. Kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk taat beribadah dan giat berdakwah. Bahkan meski miskin, ia tetap berusaha untuk bersedekah; mungkin bukan dengan hartanya, tetapi dengan tenaganya, akal-pikirannya, atau sekadar dengan senyumnya kepada sesama.
Sebaliknya, orang kaya atau miskin bisa jadi sama-sama dihinggapi oleh penyakit hubb ad-dunya’ (kecintaan terhadap dunia)—sesuatu yang tentu berlawanan dengan sikap zuhud. Tentu buruk orang kaya yang mengidap penyakit hubb ad-dunya’ sehingga memalingkan dirinya dari ketaatan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, lebih buruk lagi jika orang miskin mengidap penyakit yang sama. Sudahlah miskin di dunia, ia tak mau beribadah. Sudahlah hidup susah, ia malas berdakwah. Sayangnya, golongan yang terakhir ini pun banyak jumlahnya.
*****

Muslim yang zuhud tentu memiliki sejumlah tanda yang bisa dikenali. Imam al-Ghazali setidaknya menyebut 3 (tiga) tanda zuhud (‘alamat az-zuhd). Pertama: tidak bergembira atas harta yang dia miliki dan tidak bersedih hati atas harta yang tidak dia miliki atau yang hilang dari diri. Ini sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): …agar kalian tidak berduka atas apa yang hilang dari diri kalian dan tidak terlalu bergembira atas apa Allah berikan kepada kalian (TQS al-Hadid [57]: 23). Kedua: Sama saja bagi dirinya pujian dan celaan manusia (Pujian tidak membuat dirinya bergembira. Celaan tidak membuat dirinya duka-lara). Ketiga: Perhatian terbesarnya hanyalah Allah SWT. Ia senantiasa merasakan kelezatan dalam ketaatan kepada Allah SWT karena kalbunya memang tidak pernah kosong dari rasa cinta (mahabbah) kepada-Nya (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, III/333).
Bagi seorang Muslim, termasuk pengemban dakwah sekalipun, memang tidaklah mudah menjadi orang zuhud di tengah kepungan atmosfir kehidupan yang materialistis dan godaan dunia yang makin hedonis saat ini. Namun demikian, Imam Hasan al-Bashri telah memberikan kepada kita ‘kunci zuhud’.
Pertama: Selalu yakin bahwa rezeki kita tak mungkin diambil orang lain sehingga hati kita selalu merasa tenang. Keyakinan seperti ini paling tidak akan melahirkan dua sikap: (1) Tawakal, tentu dibarengi dengan usaha mencari rezeki secara optimal; (2) Tidak tamak dan rakus terhadap harta, apalagi terlalu ambisius mengejar kekayaan hingga sering melalaikan kewajiban, misalnya kewajiban berdakwah.
Kedua: Selalu yakin bahwa amal kita tak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Keyakinan ini akan selalu menyibukkan diri kita untuk terus beramal tak kenal lelah, termasuk amal dakwah. Dengan itu tak mungkin, misalnya, kita berdakwah karena disuruh-suruh oleh orang lain; sementara jika tidak disuruh, kita tak berdakwah.
Ketiga: Selalu yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi kita. Keyakinan ini akan menjadikan kita selalu hati-hati dan waspada dari segala perbuatan dosa. Bahkan kita malu untuk berbuat dosa meski dosa kecil sekalipun. Sebab, bagi seorang Muslim—sebagaimana dinyatakan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-‘Awliya’—masalahnya bukan kecilnya dosa, tetapi kepada siapa sesungguhnya ia berdosa. Tentu, dosa besar atau kecil, hakikatnya sama-sama merupakan maksiat kepada Allah SWT.
Keempat: Selalu yakin bahwa kematian adalah suatu kepastian. Keyakinan ini akan mendorong kita untuk terus mempersiapkan bekal demi menghadap kepada Allah SWT pada Hari Akhir nanti.
*****

Zuhud sekilas tampak sebagai perkara sepele. Namun jika kita renungkan, zuhud sebetulnya menyimpan energi positif yang luar biasa bagi seorang Muslim. Seorang Muslim yang zuhud, misalnya, akan senantiasa bersemangat dalam beribadah, antusias dalam bersedekah, dan giat dalam berdakwah. Sebab, urusan dunia bagi dirinya bukan lagi menjadi fokus utama. Fokus utamanya adalah urusan akhirat, juga urusan umat.
Sebaliknya, cinta dunia—sebagai lawan dari sikap zuhud—juga menyimpan energi luar biasa bagi seorang Muslim; tentu bukan energi positif, tetapi energi negatif: energi yang justru bisa mematikan hati (Lihat: Ibn ’Ajibah, Iqazh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, I/63). Jika hati sudah mati, ibadah tak lagi terasa sedap; sedekah tak lagi terasa lezat; dakwah pun tak lagi terasa nikmat, malah mungkin terasa berat. Na’udzu bilLah min dzalik!

Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pembuka Tirai

Ketahuilah, bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi suatu tujuan agung.

Meskipun bukan merupakan bagian Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ketuhanan. Ketika, dalam tempaan hidup zuhud, ia tersucikan dari nafsu jasmaniah, ia mencapai tingkat tertinggi; dan sebaliknya, dari menjadi budak nafsu angkara, ia memiliki sifat-sifat malaikat.

Dengan mencapai tingkat ini, ia temukan surganya di dalam perenungan tentang Keindahan Abadi, dan tak lagi pada kenikmatan-kenikmatan badani. Kimia ruhaniah yang menghasilkan perubahan ini dalam dirinya, seperti kimia yang mengubah logam rendah menjadi emas, tak bisa dengan mudah ditemukan. Untuk menjelaskan kimia dan metode operasinya itulah maka penulis menyusun karya yang diberi judul "Kimia Kebahagiaan" ini.

Khazanah-khazanah Tuhan yang mengandung kimia ini, ada di pada hati para nabi. Siapa saja yang mencarinya di tempat lain akan kecewa dan bangkrut di hari kemudian, yakni ketika ia mendengar firman, "...Telah Kami angkat tirai itu darimu, dan pandanganmu pada hari ini sangatlah tajam." (QS. Qaaf: 22).

Allah telah mengutus ke dunia ini 124 nabi untuk mengajar manusia tentang resep kimia ini, dan bagaimana cara mensucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah melalui tempaan zuhud.

Kimia ini dapat secara ringkas diuraikan sebagai berpaling dari dunia untuk menghadap kepada Allah. Bagiannya ada empat. Pertama, pengetahuan tentang diri. Kedua, pengetahuan tentang Allah. Ketiga, pengetahuan tentang dunia ini sebagaimana adanya. Keempat, pengetahuan tentang akhirat sebagaimana adanya.



Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pengetahuan tentang Tuhan (6-habis)

Kelima, adalah kelompok yang menonjol-nonjolkan kemurahan Allah seraya mengabaikan keadilan-Nya, kemudian berkata kepada dirinya sendiri, "Ya, apa pun yang kita kerjakan, Allah Maha Pemaaf."

Mereka tidak berpikir bahwa meskipun Allah itu bersifat pemaaf, beribu-ribu manusia hancur secara menyedihkan karena kelaparan dan penyakit. Mereka mengetahui bahwa siapa saja yang menginginkan suatu kehidupan, kemakmuran atau kepintaran, tidak boleh sekadar berkata, "Tuhan Maha Pemaaf," tetapi mesti berusaha sendiri dengan keras.

Meskipun al-Qur'an berkata, "Semua makhluk hidup rezkinya datang dari Allah," di sana tertulis pula, "Manusia tidak mendapatkan sesuatu kecuali dengan berusaha." Kenyataannya adalah, ajaran semacam itu berasal dari setan. Dan orang-orang seperti itu hanya berbicara dengan bibirnya, tidak dengan hatinya.

Keenam, adalah kelompok yang mengklaim sebagai telah mencapai suatu tingkat kesucian tertentu sehingga dosa tidak dapat lagi memengaruhi mereka. Meski demikian, jika anda perlakukan salah seorang di antara mereka dengan tidak hormat, dia akan menaruh dendam terhadap anda selama bertahun-tahun.

Dan jika salah seorang di antara mereka tidak mendapatkan sebutir makanan yang dia pikir merupakan haknya, seluruh dunia akan tampak gelap dan sempit baginya. Bahkan, jika ada di antara mereka benar-benar bisa menaklukkan nafsu-nafsunya, mereka tidak punya hak untuk membuat klaim semacam itu, mengingat para nabi—jenis manusia yang tertinggi—terus-menerus mengakui dan meratapi dosa-dosa mereka. Beberapa di antara mereka mempunyai dosa yang sedemikian besar, sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari hal-hal yang halal.

Pernah diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa suatu hari ketika sebutir kurma dibawa kepadanya, beliau tidak mau memakannya hanya lantaran tidak yakin bahwa kurma tersebut diperoleh secara halal. Sementara orang-orang yang berkehidupan bebas ini mau meneguk berliter-liter anggur dan mengklaim diri lebih unggul dari Nabi yang kesuciannya diancam oleh sebutir kurma, sementara mereka tidak terpengaruh oleh anggur sebanyak itu.

Patutlah jika setan membenamkan mereka ke dalam kehancuran total. Orang-orang suci sejati mengetahui bahwa orang yang tidak bisa menguasai nafsu-nafsunya tidak pantas disebut sebagai seorang manusia. Dan bahwa seorang Muslim sejati adalah orang yang dengan senang hati mau mengakui batas-batas yang ditetapkan oleh syariah.

Orang yang berupaya dengan dalih apa pun untuk mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sudah jelas berada dalam pengaruh setan dan harus diajak berbicara tidak dengan sebatang pena, tapi dengan sebilah pedang. Para penganut mistik palsu semacam ini kadang-kadang berpura-pura telah tenggelam di dalam lautan ketakjuban. Tetapi, jika anda bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka takjubkan, mereka tidak tahu. Mereka mesti disuruh agar takjub semau mereka, tetapi pada saat yang sama agar mengingat bahwa Yang Maha Kuasa adalah penciptanya, dan bahwa mereka adalah abdi-abdi-Nya.